Umum


Terima kasih atas sambutan yang hangat ini. Terima kasih kepada semua penduduk Jakarta. Dan terima kasih bagi seluruh bangsa Indonesia.

*

Saya senang akhirnya bisa berkunjung ke negeri ini dengan ditemani oleh Michelle. Tahun ini, kami telah dua kali gagal datang ke Indonesia. Namun, saya berkeras untuk menyambangi sebuah negeri yang amat bermakna bagi saya ini. Sayangnya, lawatan ini begitu singkat. Tapi saya berharap bisa datang lagi tahun depan pada saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia Timur.

Sebelum berbicara lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa doa dan perhatian kami tertuju kepada para korban bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini, khususnya bagi mereka yang kehilangan orang tercinta serta tempat tinggal. Amerika Serikat senantiasa ada di sisi pemerintah dan bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana alam ini, dan kami akan dengan senang hati menolong semampunya. Sebagaimana tetangga yang mengulurkan tangan kepada tetangganya yang lain, dan banyak keluarga menampung orang-orang yang kehilangan rumah, saya tahu bahwa kekuatan dan ketahanan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan sanggup mengangkat kalian keluar dari kesusahan ini.

Saya akan memulai dengan pernyataan sederhana: Indonesia bagian dari diri saya. Pertama kali saya bersentuhan dengan negeri ini adalah ketika ibu saya menikahi seorang pria Indonesia bernama Lolo Soetoro. Sebagai seorang bocah, saya terdampar di sebuah dunia yang berbeda. Namun, orang-orang di sini membuat saya merasa berada di rumah saya sendiri.

Pada masa itu, Jakarta terlihat begitu berbeda. Kota ini disesaki gedung-gedung yang tak begitu tinggi. Hotel Indonesia adalah salah satu bangunan tinggi. Kala itu, ada sebuah pusat perbelanjaan baru bernama Sarinah. Jumlah becak jauh lebih banyak daripada kendaraan bermotor. Dan jalan raya tersisih oleh jalan-jalan kampung tak beraspal.

Kami tinggal di Menteng Dalam, pada sebuah rumah mungil yang halamannya ditumbuhi sebatang pohon mangga. Saya belajar mencintai Indonesia pada saat menerbangkan layang-layang, berlarian di sepanjang pematang sawah, menangkap capung, dan jajan sate atau bakso dari pedagang keliling. Yang paling saya kenangkan adalah orang-orangnya: lelaki dan perempuan sepuh yang menyapa kami dengan senyumnya; anak-anak yang membuat seorang asing seperti saya jadi seperti tetangga; dan guru-guru yang mengajarkan keluasan dunia.

Karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa, dan orang-orang dari berbagai daerah dan suku, periode saya tinggal di negeri ini melapangkan jalan bagi saya menghargai kemanusiaan. Walau ayah tiri saya, sebagaimana orang Indonesia umumnya, dibesarkan sebagai seorang Muslim, ia sepenuhnya percaya bahwa semua agama patut dihargai secara setara. Dengan cara itu, ia mencerminkan semangat toleransi keberagamaan yang diabadikan dalam Undang-undang Dasar Indonesia yang tetap menjadi salah satu ciri negeri ini, yang tentunya memberi inspirasi.

Saya tinggal di kota ini selama bertahun-tahun — sungguh suatu masa yang membentuk masa kecil saya; suatu masa yang menjadi saksi bagi kelahiran adik saya yang manis, Maya; dan suatu masa yang telah memesona ibu saya sehingga ia terus-menerus menghampiri Indonesia 20 tahun kemudian untuk tinggal, bekerja dan bepergian – mengejar hasratnya mendorong terbukanya kesempatan di pedesaan Indonesia khususnya bagi perempuan. Sepanjang hidupnya, negeri ini, beserta orang-orangnya, tetap tersimpan di hati ibu saya.

Begitu banyak yang berubah dalam empat dekade ini sejak saya kembali ke Hawaii. Jika kalian bertanya kepada saya – atau teman sekolah pada masa itu yang mengenal saya – saya yakin tak ada di antara kami yang mampu menyangka bahwa saya akan kembali ke negeri ini sebagai Presiden Amerika Serikat. Dan beberapa orang semestinya bisa meramalkan kisah luar biasa yang melibatkan Indonesia dalam empat dekade terakhir.

Jakarta yang dahulu saya kenal kini telah berkembang menjadi sebuah kota yang dijejali hampir sepuluh juta manusia, gedung-gedung pencakar langit yang membuat Hotel Indonesia terlihat kerdil, serta pusat-pusat kebudayaan dan perdagangan. Dulu saya dan kawan-kawan semasa kanak biasa berkejar-kejaran di lapangan ditemani kerbau dan kambing. Kini, generasi baru Indonesia termasuk dalam golongan paling terhubung dalam jagat komunikasi dunia melalui telepon genggam dan media sosial. Dulu, Indonesia sebagai bangsa yang masih muda berfokus ke dalam. Kini, bangsa ini memainkan peran penting di kawasan Asia-Pasifik dan ekonomi global.

Perubahan ini menjangkau ranah politik. Waktu ayah tiri saya masih kanak, ia menyaksikan ayah dan abangnya pergi berperang dan tewas demi kemerdekaan Indonesia. Saya lega bisa ada di sini tepat ketika Hari Pahlawan untuk mengingat jasa begitu banyak orang Indonesia yang rela berkorban demi negara yang besar ini.

Ketika saya pindah ke Jakarta pada tahun 1967, beberapa daerah di negeri ini baru saja mengalami penderitaan dan konflik yang hebat. Meski ayah tiri saya pernah menjadi seorang tentara, kekerasan dan pembantaian yang terjadi pada masa kekisruhan politik itu tak dapat saya pahami karena keluarga Indonesia dan teman-teman saya memilih bungkam. Di dalam rumah tangga saya, seperti keluarga Indonesia umumnya, peristiwa itu hadir secara sembunyi-sembunyi. Bangsa Indonesia merdeka, tapi rasa takut senantiasa mengikuti.

Pada masa-masa sesudahnya, Indonesia memilih jalurnya sendiri melalui tranformasi demokratis yang luar biasa – dari pemerintahan tangan besi, ke pemerintahan rakyat. Tahun-tahun belakangan, dunia menyaksikan dengan harapan dan rasa kagum usaha bangsa Indonesia merengkuh peralihan kekuasaan dengan jalan damai dan pemilihan kepala negara serta daerah secara langsung. Ketika demokrasi di negeri ini disimbolkan oleh terpilihnya Presiden dan wakil rakyat, ketika itu pula demokrasi dijalankan dan dipelihara melalui kontrol dan keseimbangan (check dan balance): Sebuah masyarakat madani, partai dan serikat politik yang madani; media dan warga negara penuh semangat yang telah yakin bahwa – di dalam Indonesia – tak ada lagi jalan memutar.

Bahkan ketika tanah tempat kemudaan saya pernah berlalu ini telah berubah banyak, hal-hal yang pernah saya pelajari untuk mencintai Indonesia – semangat toleransi yang tercantum dalam Undang-undang Dasar dan terpacak melalui masjid, gereja dan candi, pun tertanam dalam darah bangsa – masih mengalir di tubuh saya. Bhinneka Tunggal Ika – persatuan dalam keragaman. Falsafah itu merupakan pondasi yang dicontohkan Indonesia kepada dunia. Itu sebabnya Indonesia akan memainkan peran penting pada abad ke-21.

Hari ini, saya kembali ke Indonesia sebagai seorang sahabat sekaligus Presiden yang mengharapkan terjalinnya kerja sama erat antar kedua negara. Sebagai negara yang luas dan majemuk, berdamping-dampingan dengan Samudera Pasifik dan, di atas itu semua, demokrasi, Amerika Serikat dan Indonesia ditakdirkan bersama oleh kepentingan dan nilai-nilai yang sama.

Kemarin, Presiden Yudhoyono dan saya menyetujui Kerja Sama Komprehensif yang baru antara Amerika Serikat dan Indonesia. Pemerintahan kedua negara mempererat hubungan di berbagai bidang dan, yang juga penting, memperkuat hubungan antar bangsa. Kerja sama ini tentunya berdasar atas rasa saling membutuhkan dan saling menghormati.

Dengan sisa waktu yang saya miliki hari ini, saya ingin berbagi tentang mengapa kisah yang baru saja saya utarakan begitu penting bagi Amerika Serikat dan dunia. Saya ingin menitikberatkan pembahasan pada tiga hal yang saling berkait-erat serta mendasar bagi kemajuan manusia: Pembangunan, demokrasi dan agama.

Pertama, persahabatan yang terjalin antara Amerika Serikat dan Indonesia dapat memajukan pembangunan yang saling menguntungkan.

Ketika saya hidup di Indonesia, sulit membayangkan sebuah masa depan dimana kemakmuran yang dirasakan oleh banyak keluarga di Chicago dan Jakarta akan berhubungan. Kini, kita ada pada zaman ekonomi global. Bangsa Indonesia telah merasakan risiko dan harapan dari globalisasi: Mulai dari krisis ekonomi Asia yang terjadi pada akhir tahun 1990, dan jutaan orang yang berhasil bangkit dari kemiskinan. Artinya, dan yang akhirnya kita pelajari dari krisis ekonomi barusan, masing-masing dari kita memiliki sumbangsih pada keberhasilan yang diraih pihak lain.

Amerika memiliki sumbangsih terhadap sebagian dari Indonesia yang merasakan kemakmuran, karena tumbuhnya kelas menengah di sini juga berarti timbulnya pasar bagi produk-produk kami seperti juga Amerika merupakan pasar bagi Indonesia. Karena itu, kami menanamkan modal lebih banyak di Indonesia. Ekspor dari Amerika telah naik 50 persen, dan kami membuka pintu bagi pengusaha Amerika dan Indonesia untuk saling berhubungan.

Amerika memiliki sumbangsih terhadap Indonesia, yang memainkan peranannya dalam perekonomian global. Hari-hari ketika tujuh atau delapan negara membentuk kelompok dan menentukan arah perekonomian dunia telah berlalu. Karena itulah saat ini G-20 telah menjadi pusat kerja sama ekonomi internasional: Hal yang memungkinkan negeri seperti Indonesia memiliki suara lebih nyaring dan tanggung jawab lebih besar. Melalui kepemimpinan Indonesia di dalam kelompok G-20 yang memerangi korupsi, negeri ini harus ada di depan pada panggung dunia dengan memberikan contoh baik dalam mempraktikkan transparansi dan akuntabilitas.

Amerika memiliki sumbangsih terhadap Indonesia yang mengejar pembangunan berkelanjutan. Karena cara kita bertumbuh akan mempengaruhi kualitas hidup kita serta kesejahteraan planet yang kita diami. Karena itulah kita mengembangkan teknologi untuk menghasilkan energi bersih yang mampu menopang industri dan menjaga sumber daya alam Indonesia. Amerika menyambut kepemimpinan negeri anda dalam usaha global memerangi perubahan iklim.

Di atas itu semua, Amerika memiliki sumbangsih terhadap keberhasilan manusia Indonesia. Kita harus membangun jembatan yang menghubungkan kedua bangsa karena kita akan berbagi jaminan dan kemakmuran di masa nanti. Itu yang kini sedang kita rintis: Meningkatkan kolaborasi antara ilmuwan dan peneliti kita serta bekerja sama memelihara kewirausahaan. Saya pribadi puas karena kita berhasil meningkatkan jumlah pelajar Amerika dan Indonesia yang meneruskan pendidikan di universitas-universitas yang ada pada kedua negara.

Baru saja saya bicarakan masalah-masalah penting dalam kehidupan kita. Lagipula, pembangunan tak melulu hanya berhubungan dengan tingkat pertumbuhan dan angka-angka dalam neraca. Pembangunan juga menyangkut bagaimana seorang anak mampu mempelajari keahlian yang mereka butuhkan untuk menghadapi dunia yang selalu berubah. Pembangunan berkaitan dengan bagaimana gagasan baik dapat diwujudkan dan tak tercemar dengan korupsi. Pembangunan juga berhubungan dengan bagaiman kekuatan-kekuatan yang telah mengubah Jakarta yang pernah saya kenal – teknologi, perdagangan, arus keluar-masuk orang dan barang – mampu membuat hidup orang jadi lebih baik: Kehidupan uang ditandai dengan martabat dan kesempatan.

Pembangunan semacam itu tak mampu dipisahkan dari demokrasi.

Kini, kita sering mendengar bahwa demokrasi menghalangi pertumbuhan ekonomi. Ini bukanlah alasan baru. Orang akan berkata, khususnya di tengah perubahan dan kondisi ekonomi tak menentu, bahwa pembangunan akan lebih mudah dijalankan dengan mengorbankan hak asasi manusia. Tapi, saya tak melihat itu di India, juga Indonesia. Apa yang kalian telah raih menunjukkan bahwa demokrasi dan pembangunan saling menopang.

Seperti laiknya demokrasi di negara lain, halangan selalu merintangi. Amerika juga mengalaminya. Undang-undang Dasar yang kami miliki menyatakan upaya untuk menempa “penyatuan lebih sempurna.” Kami telah menempuh perjalanan untuk meraih itu. Kami melewati Perang Saudara dan berjuang menegakkan hak-hak pribadi warga negara Amerika Serikat. Usaha itu kemudian membuat kami lebih kuat dan sejahtera serta menjadi sebuah masyarakat yang lebih adil dan bebas.

Seperti negara lain yang bangkit dari pemerintahan kolonial di abad lalu, Indonesia berjuang dan berkorban demi memiliki hak menentukan nasib sendiri. Itulah makna Hari Pahlawan sesungguhnya: Sebuah Indonesia yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Tapi, secara bersamaan, kemerdekaan yang telah didapatkan itu tak pula berarti menggantikan kekuatan kolonial dengan kekuatan pemerintahan lokal.

Tentunya, demokrasi morat-marit. Tak semua pihak menyukai hasil akhir suatu pemilihan umum. Kalian semua mengalami segala suka dan duka. Namun, perjalanan itu patut dilewati karena tak hanya melulu mengenai surat suara. Butuh lembaga yang kuat untuk mengontrol pemusatan kekuatan. Butuh pasar terbuka untuk memungkinkan banyak individu maju. Butuh pers dan sistem peradilan yang independen. Butuh masyarakat terbuka dan warga negara yang aktif untuk melawan ketimpangan dan ketidakadilan.

Yang demikian adalah kekuatan yang akan mendorong Indonesia. Korupsi harus dilawan. Komitmen pada keterbukaan, yang memungkinkan tiap warga memiliki sumbangsih terhadap pemerintahannya, mesti ada. Kepercayaan bahwa kemerdekaan yang telah direbut merupakan hal yang tetap menyatukan negeri ini harus ditumbuhkan.

Itu adalah pesan dari manusia Indonesia yang telah memajukan kisah demokratis ini: Dari mereka yang berperang di Surabaya 55 tahun lampau; kepada para mahasiswa yang tergabung dalam demonstrasi tahun 1990an; kepada para pemimpin yang telah berhasil menjalani transisi kekuasaan secara damai pada awal abad ini. Karena, akhirnya, para warga negara memiliki hak untuk menyatukan Nusantara, yang membentang sepanjang Sabang dan Merauke: Sebuah penegasan bahwa setiap bayi yang lahir di negeri ini wajib diperlakukan dengan adil meski mereka berketurunan Jawa, Aceh, Bali atau Papua.

Upaya-upaya semacam itu ditunjukkan Indonesia kepada dunia. Negeri ini berinisiatif membentuk Forum Demokrasi Bali, sebuah forum bagi negara-negara untuk berbagi pengalaman dalam menjaga demokrasi. Indonesia juga telah berusaha menekan ASEAN memperhatikan hak asasi manusia. Bangsa-bangsa di Asia Tenggara berhak menentukan takdirnya sendiri dan Amerika Serikat akan mendukung upaya itu. Namun, warga Asia Tenggara harus pula memiliki hak menentukan nasib mereka sendiri. Itu sebabnya kami mengutuk pemilihan umum di Burma, yang jauh dari kebebasan maupun keadilan. Itu sebabnya kami menyokong masyarakat madani yang penuh semangat di negeri ini. Tidak ada alasan untuk mencegah penegakan hak asasi manusia di manapun.

Itulah pembangunan dan demokrasi – gagasan bahwa ada nilai-nilai yang sifatnya universal. Kemakmuran tanpa kemerdekaan adalah bentuk lain dari kemiskinan. Manusia memiliki cita-cita bersama: Kebebasan untuk tahu bahwa pemimpinmu bertanggung jawab atasmu dan bahwa anda takkan dibui bila memiliki pandangan yang berseberangan dengannya. Anda memiliki kesempatan belajar dan bekerja dengan kemuliaan. Anda bebas menjalankan kepercayaan yang anda anut tanpa takut dikucilkan.

Agama merupakan topik terakhir yang akan saya bicarakan hari ini dan, seperti layaknya demokrasi dan pembangunan, merupakan hal mendasar bagi kisah Indonesia.

Seperti negara Asia lain yang saya kunjungi, Indonesia tenggelam dalam spiritualitas: Sebuah tempat manusia menyembah Tuhan dengan berbagai cara. Sejalan dengan keberagamannya, Indonesia juga negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia – hal yang telah saya ketahui sejak kecil ketika mendengar lantunan azan di Jakarta.

Suatu Individu tak hanya didefinisikan berdasarkan kepercayaannya. Begitu pula Indonesia. Negeri ini tidak hanya ditetapkan berdasarkan penduduk Muslimnya. Kita juga tahu bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan masyarakat Islam telah lama rusak. Sebagai Presiden, saya mendahulukan perbaikan atas hubungan yang rusak ini. Salah satu upaya itu adalah kunjungan ke Kairo pada bulan Juni yang lalu dan keinginan untuk memulai lagi hubungan yang baru antara Amerika Serikat dan umat Islam sedunia.

Waktu itu saya bilang, dan akan saya ulangi sekarang, bahwa tak ada satu pidato pun yang dapat menghapuskan tahun-tahun penuh ketidakpercayaan. Tapi waktu itu saya percaya, demikian pula sekarang, bahwa kita punya pilihan. Kita bisa memilih untuk bisa menetapkan diri kita berdasarkan perbedaan-perbedaan yang kita miliki dan menyerah pada masa depan yang penuh kecurigaan dan ketidakpercayaan. Atau kita bisa memilih untuk bekerja keras demi memelihara persamaan hak. Saya berjanji, apapun rintangannya, Amerika Serikat akan berkomitmen memajukan manusia. Itulah kami. Kami telah melakukannya. Kami akan terus menjalankannya.

Kami tahu baik masalah-masalah yang menyebabkan adanya tekanan bertahun-tahun ini. Kami telah menciptakan kemajuan setelah 17 bulan pemerintahan. Tapi, pekerjaan belum selesai.

Banyak warga tak berdosa di Amerika, Indonesia dan belahan dunia lainnya masih menjadi target kaum ekstremis. Saya telah menegaskan bahwa Amerika tidak sedang memerangi, dan takkan terlibat perang dengan, Islam. Namun, kita semua harus menghancurkan Al-Qaeda dan antek-anteknya. Siapapun yang ingin membangun tak boleh bekerja sama dengan teroris. Ini bukanlah tugas Amerika sendiri. Indonesia telah berhasil memerangi para teroris dan aliran garis keras.

Di Afghanistan, kami terus bekerja bersama beberapa negara untuk membantu pemerintah Afghanistan meretas masa depannya. Kepentingan kami di sana adalah memungkinkan terwujudnya perdamaian yang pada akhirnya mampu memunculkan harapan bagi negeri itu.

Kami juga telah mencatat kemajuan dalam salah satu komitmen utama kami: Upaya mengakhiri perang di Irak. 100 ribu tentara Amerika telah meninggalkan negeri itu. Penduduk Irak telah memiliki tanggung jawab penuh atas keamanan mereka. Kami terus mendukung Irak dalam prosesnya membentuk pemerintahan yang inklusif. Kami juga akan memulangkan seluruh tentara AS.

Di Timur Tengah, kami telah menghadapi permulaan yang gagal serta halangan. Namun, kami juga terus menjaga upaya merengkuh perdamaian. Bangsa Israel dan Palestina memulai kembali perundingan. Namun, masih ada masalah besar di sana. Ilusi bahwa kedamaian dan keamanan akan datang dengan mudah tak boleh muncul. Tapi, singkirkanlah keragu-raguan: Kami takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk memperoleh hasil yang adil bagi semua pihak yang bertikai: Dua negara, Israel dan Palestina, hidup berdampingan secara damai dan sentosa.

Penyelesaian atas masalah-masalah itu memiliki taruhan yang besar. Dunia yang kita huni telah menjadi kian kecil. Sementara kekuatan-kekuatan yang menghubungkan kita membuka kesempatan, kekuatan-kekuatan itu juga menyokong pihak yang ingin menghambat kemajuan. Sebuah bom di tengah pasar melumpuhkan kegiatan jual-beli. Sepotong gosip dapat mengaburkan kebenaran dan memicu kekerasan di tengah masyarakat yang sebelumnya hidup rukun. Di zaman ini, ketika perubahan begitu cepat dan berbagai budaya berbenturan, apa yang kita bagikan sebagai manusia dapat musnah.

Saya percaya bahwa sejarah Indonesia dan Amerika mampu memberikan kita harapan. Kisah keduanya tertulis dalam semboyan yang dimiliki oleh negara kita masing-masing. E pluribus unum – beragam tapi bersatu. Bhinneka Tunggal Ika – persatuan dalam keberagaman. Kita dua bangsa yang mengambil jalan masing-masing. Namun kedua negara ini menunjukkan bahwa ratusan juta orang yang memiliki kepercayaan berbeda mampu bersatu dengan merdeka di bawah satu bendera. Dan kita sekarang membangun kemanusiaan melalui anak-anak muda yang akan melalui pendidikan di sekolah masing-masing; melalui wirausahawan yang saling berhubungan demi meraih kemakmuran; dan melalui upaya kita memeluk nilai-nilai demokrasi serta cita-cita manusiawi.

Tadi saya mampir ke Masjid Istiqlal. Rumah ibadah itu masih dalam pengerjaan ketika saya tinggal di Jakarta. Saya mengagumi menaranya yang menjulang, kubah yang megah, serta tempatnya yang lapang. Namun, nama serta sejarahnya juga menjadi saksi kebesaran Indonesia. Istiqlal maknanya kemerdekaan. Bangunan itu sebagiannya merupakan wasiat perjuangan sebuah bangsa menuju kemerdekaan. Terlebih lagi, masjid itu dibangun oleh seorang arsitek Kristen.

Itulah semangat Indonesia. Itulah pesan yang diimbuhkan dalam Pancasila. Di sebuah negeri kepulauan yang berisi beberapa ciptaan Tuhan yang paling elok, pulau-pulau yang menyembul dari samudera, orang bebas memilih Tuhan yang ingin mereka sembah. Islam berkembang, begitu pula ajaran lain. Pembangunan diperkuat oleh demokrasi yang sedang berkembang. Tradisi purba terpelihara meski sebuah kekuatan sedang lahir.

Tapi bukan berarti Indonesia negeri sempurna. Tak ada satu negeri pun yang bisa. Tapi di sini ras, wilayah, dan agama yang berbeda mampu dijembatani. Sebagai seorang bocah yang berasal dari suatu ras dan datang dari sebuah negeri yang jauh, saya menemukan semangat untuk melihat diri sebagai seorang individu dalam ucapan “Selamat Datang”. Sebagai seorang pemeluk Kristiani yang mengunjungi masjid, saya mengutip pendapat seseorang yang ditanyai tentang kunjungan saya: “Orang Islam juga boleh masuk gereja. Kita semua adalah umat Tuhan.”

Ungkapan itu mencetuskan gagasan bahwa sifat ketuhanan ada di dalam diri kita. Kita tak boleh menyerah pada penyangkalan atau sinisisme atau keputusasaan. Kisah yang melibatkan Indonesia dan Amerika menunjukkan kepada kita bahwa sejarah mengikuti perkembangan manusia; bahwa persatuan lebih kuat daripada perpecahan; dan bahwa warga dunia dapat hidup dengan damai. Semoga kedua negeri kita dapat terus bekerja sama, dengan kepercayaan dan determinasi, menyebarkan kebenaran-kebenaran ini dengan seluruh manusia. *
• sumber VIVAnews.com

Iklan
  • Siapa tak kenal Pamela Anderson, seleb panas, pemeran serial Baywatch.  Dia mau difoto bugil majalah Playboy dan upah honornya akan disumbangkan untuk berbagai bencana alam, termasuk korban tsunami Mentawai.  Saya yakin kalangan moralis dan agamis akan menolak, padahal Pamela tidak mengambil uang korupsi, tidak menyakiti orang, tidak menyerang orang. Bertelanjang saja.. dan dijepret kamera..karena memang profesinya cari makan begitu.  Lalu hasil kerjanya disumbangkanpada korban bencana. Ditolak atau diterima ?
  • Pamela berencana mendonasikan uang sebesar US$ 25.000 untuk para korban bencana alam di Indonesia. Itu bayaran tampil di sampul majalah pria dewasa, Playboy.
  • Gadis Playboy dan bintang serial televisi Baywatch ini berpose tanpa busana untuk majalah Playboy edisi Januari 2011.
  • Aku juga menyumbang secara pribadi. Aku berharap bisa melakukan lebih banyak lagi. Indonesia, Haiti, dan Pakistan yang  membutuhkan alat penyaring air ini. Sebarkan ini ke seluruh dunia,” kata Anderson.
  • Di Pengadilan Manhattan, New York, diputuskan seorang anak umur 4 tahun dapat bertanggung jawab secara pidana karena kelalaian (negligence). Si anak berlomba sepeda dengan temannya dan menabrak seorang nenek tua hingga terluka dan harus dibedah.

    tags: pidana tanggungjawab anak

    •  

  • The ruling by the judge, Justice Paul Wooten of State Supreme Court in Manhattan, did not find that the girl was liable, but merely permitted a lawsuit brought against her, another boy and their parents to move forward.

  • Judge has ruled that a young girl accused of running down an elderly woman while racing a bicycle with training wheels on a Manhattan sidewalk two years ago can be sued for negligence.

 

Rakyat kini sangat ekspresif menanggapi segala soal . Terakhir nelayan Malaysia yang ditangkap petugas DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) Kepulauan Riau. Katanya mereka curi ikan di laut kita. Hampir semua orang geram. Langsung demo. Merazia warga negeri jiran di Jakarta. Tampak patriotik dan kadang-kadang jenaka. Ada lagi pekerja filem yang menggantungkan tulisan “Ganyang Malaysia” di patung Bung Karno. Yang tidak lucu, sekelompok orang melempar Kedutaan Malaysia dengan kotoran manusia.

Saya sendiri cukup heran mengamati sepak terjang Malaysia. . Apakah tetangga ini sudah tak mau bersahabat dengan kita. Dan kenapa Pemerintah kita tak pernah bersikap tegas. Bukan cuma SBY saja yang sudah dikenal tabiat. Pemerintahan sebelumnya sama saja. Apa sebab ? Beda dengan kita, bangsa Malaysia agaknya lebih sering memilih berkepala dingin menyikapi tindak-tanduk tetangganya di sebelah. Kita juga maunya berkepala dengan temperatur sama agar kelihatan sebagai bangsa yang berkebudayaan. Ingat ..si jelita Manohara ., istri pengiran Malaysia? Heboh safari infotainmen lebih sebulan. Bagaimana reaksi rakyat Malaysia? Paling banter supir taksi di Kuala Lumpur, seperti diceritakan Prabowo Subianto, bilang bangsa Indonesia bodoh.(lihat Detik.com)

Sekarang kasus nelayan Malaysia yang dibalas dengan petugas DKP diciduk Malaysia, lalu barter. Apa sebenarnya terjadi? Apa yang tidak diungkap dalam media kita.?

Media di Malaysia menegaskan petugas DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) Kepulauan Riau bergajul. Melakukan pemerasan kepada nelayan Malaysia di perairan Malaysia! Nah..Peristiwa yang diuraikan begini sebenarnya.(Dan ini dilaporkan dalam nota keberatan diplomatik kepada Indonesia).(lihat misalnya mStar Online)

Tanggal 13 Agustus petugas DKP menangkap nelayan Malaysia di lokasi 4 mil laut di sebelah tenggara pantai Tanjung Punggai, Kota Tinggi, Johor. Dikatakan ini bisa dibuktikan karena perahu nelayan dilengkapi GPS (Global positioning System).

Menurut peta Malaysia tahun 1979 yang telah diakui Mahkamah Internasional (International Court of Justice) perairan itu masih termasuk ke wilayah Malaysia. (lihat :Putusan ICJ-PDF)Pantai Tanjung Punggai berjarak 14 mil laut dari Batam (Indonesia). Artinya petugas DKP telah nyelonong melanggar kedaulatan negeri jiran. Menciduk nelayan orang di halaman rumahnya sendiri.

DKP menahan lima kapal nelayan bersama 15 nelayan di lokasi kejadian pada pukul 9.30 malam waktu Malaysia. Tujuh nelayan ditahan DKP dan dibawa menaiki kapal DKP Dolphin 015.

Pada 10.45 malam , lima kapal nelayan dan kapal boat Dolphin 015 dipantau di lokasi 010 18.9’ Lintang Utara, 1040 24.4’ Bujur Timur. Kira-kira 0.4 mil laut dari Karang Tengah (Middle Rock) yang sedang dalam pelayaran menuju ke Batam, Indonesia.

Lokasi ini masih di dalam perairan laut wilayah Malaysia berdasarkan Mahkamah Internasional (ICJ) dalam putusannya 23 Mei 2008 . Ini berkaitan dengan sengketa Malaysia Singapore. Diputuskan Karang Tengah milik Malaysia. Pihak Malaysia lalu mengarahkan kapal DKP Dolphin 015 untuk berhenti, tapi jalan terus. Lalu Malaysia menembak flare ke udara menggunakan light pistol. Malaysia berhenti kejar karma Dolphin 015 telah memasuki perairan Indonesia.

Salah seorang pegawai DKP telah dihubungi oleh pimpinannya yang dikenali sebagai Hammanto dan menawarkan pertukaran pegawai DKP yang ditahan dengan tujuh nelayan Malaysia. (Tiga Pegawai DKP ditemukan berusaha mengganti pakaian dinasnya agar tidak ketahuan pegawai pemerintah) Negosiasi ditolak dan semua delapan nelayan dan lima bot serta tiga pegawai DKP digelandang ke Jeti Jabatan Laut Tanjung Pengelih Malaysia. Ketiga pegawai DKP dikenakan pasal penculikan oleh polisi Malaysia (Seksi 363 Kanun Keseksaan, semacam KUHP Malaysia).

Pada 14 Agustus 2010, sebuah laporan Polisi dibuat oleh adik salah seorang nelayan yang ditahan menyatakan bahwa dia menerima pesan singkat (SMS) dari No +6281270228267 (SImPati Indonesia!) yang tertulis “Tolong kirim RM1,000 Untuk taikong Melayu untuk tiga orang Cina RM 2,500, jadi semua RM 3,500. Kirim lewat western union atas nama Harun No KTP 2171071708659006, Alamat: Tanjung Piayu sei Beduk, Batam. Ok?.”

Tanggal 16 Agustus 2010, lima orang dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia datang ke Kantor Polisi Johor untuk merundingkan pembebasan tiga pegawai DKP.

Tanggal 17 Agustus 2010, pukul 9.20 pagi waktu Malaysia, Kepala Polisi Daerah Kota Tinggi menyerahkan tiga pegawai DKP kepada Jonas L. Tobing, wakil Konsulat Republik Indonesia. Kemudian Malaysia mengirim Nota Protes Diplomatik ke atas tindak penahanan 7 nelayan Malaysia oleh bot Dolphin 015 milik DKP. Disebutkan sejak 2005 hingga Agustus 2010, terdapat 12 kasus pelanggaran perairan Malaysia. Nelayan yang menangkap ikan dalam perairan Malaysia kerap menjadi obyek pemerasan. Diminta membayar sejumlah uang untuk membebaskan nelayan yang ditahan.

Kalau benar fakta-fakta diatas, alangkah mengerikan dan memalukan. Tidak heran Menlu Natalegawa dan Pemerintah pusing tujuh keliling. Kenapa? Kalau Indonesia mau bersengketa lagi ke Mahkamah Internasional, jangan-jangan kalah lagi seperti kasus Sipadan Ligitan. Apakah kita punya Peta yang bisa mengalahkan Peta Malaysia 1979. (Sejauh ini Indonesia konon punya peta, tapi tahunnya 2009!). Apakah pulau-pulau terluar kita ada penghuni WNI. Apalagi klaim Malaysia untuk pulau Karang Tengah (Middle Rock) sudah diakui Mahkamah. Bagaimana caranya memenuhi tuntutan rakyat yang geram minta Malaysia minta maaf sedangkan pegawai DKP yang melanggar wilayah Malaysia. Bahkan ada disebut pemerasan. Mentalitas pegawai semacam ini tidak aneh di negeri kita. Bulan September nanti ada pertemuan RI Malaysia di Kinabalu membicarakan perbatasan. Dijamin Indonesia tidak akan banyak menuntut, dan Malaysia akan siap ke Mahkamah Internasional.

Mau perang.? Nanti dulu, kawan, tabung gas saja sampai sekarang tak berhenti meledak.

Mau bicara 300 an WNI yang mau dihukum mati di Malaysia? Media kita tidak mengungkapkan bahwa kebanyakan kasusnya narkoba! Selainnya mungkin masalah imigran gelap. Dalam hubungan diplomasi Internasional Negara lain boleh menuntut sama kalau kita memperlakukan sama. Kalau kita tidak mau hukuman mati kepada WNI penjahat Narkoba, kita juga jangan menghukum mati warga Malaysia. (Yang lucu, Dubes Dai Bachtiar terkejut menerima laporan adanya ancaman pidana mati kepada ratusan WNI. Tentu karna dia berpikir pengadilan Malaysia memberi laporan setiap bulan kepada KBRI, bukan KBRI yang mengupdate status WNI di Pengadilan).

Untuk membuktikan bangsa kita bukan orang bodoh seperti dikatakan sopir taksi di bandara Kuala Lumpur, maka kita harus mengirim tenaga kerja level Direktur. Paling tidak kirim manager banyak-banyak. Kirim juga ratusan professor doctor untuk mengajar di Universiti Kebangsaan Malaysia. Pengusaha kita investasi di rumah sakit Malaysia, janganlah kita cuma kirim pasien saja berobat ke Penang. Pertamina buka pompa-pompa bensin di Kuala Lumpur, jangan kalah sama Petronas. Produser animasi, kirimlah karya ke Disney Channel, biar ditayangkan seperti Upin dan Ipin. Soal perang ? Lupakan sajalah. .. termasuk Manohara.

1. Ketua Harkristuti Harkrisnowo (Dirjen HAM Kementerian Hukum dan HAM)
2. Wakil Ketua I Aidir Amin Daud (Dirjen Administrasi Hukum Umum Kemenkum dan HAM)
3. Wakil Ketua II Indriyanto Seno Adji (praktisi hukum)
4. Sekretaris Tajum (Sekretaris Dirjen HAM Kemenkum dan HAM)
5. Anggota Suhartoyo (Deputi Menkopolhukam bidang hukum dan HAM)
6. Anggota Laksda TNI Henry Willem (Kepala Badan Pembinaan Hukum Kemhan)
7. Anggota Suparta (Irjen Kemenag)
8. Anggota Hamzah Tadja (Jamwas Kejagung)
9. Anggota Iman Santosa (Deputi Sekretaris Kebanit Bidang Hukum Seskab)
10. Anggota Ramly Hutabarat (staf ahli Menkumham)
11. Anggota Luhut Pangaribuan (praktisi hukum)
12. Anggota Fred Tambunan (praktisi hukum)
13. Anggota Muchyar Yara (praktisi hukum)
14. Anggota Andi Hamzah (akademisi hukum)
15. Anggota Satya Arinanto (akademisi hukum)
16. Anggota Patorang Halim (akademisi hukum)
17. Anggota Komarudin Hidayat (tokoh masyarakat)
18. Anggota Muji Sutrisno (tokoh masyarakat)
19. Anggota Maria Hartiningsih (tokoh masyarakat)

Banyak orang yang mengidentikkan nama Tanjung Priok dengan Mbah Priok. Banyak yang mengatakan nama Priok itu dari kata periuk peninggalan sang habib yang meninggal dunia. Tapi ada cerita lain soal asal muasal kata Priok itu.

“Kata Priok berasal dari peninggalan Aki Tirem, seorang penghulu atau kepala desa dan pembuat periuk di kawasan Warakas,” kata sejarawan Betawi, JJ Rizal, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (15/4/2010).

Dia menjelaskan, Aki Tirem memiliki jejak dan sejarah panjang di kawasan Jakarta Utara. Sebagai contoh, di kawasan Warakas masih ada sungai kecil yang sekarang disebut Kali Tirem.

“Kali Tirem itu peninggalan dia. Diambil dari namanya,” ujar Rizal.

Aki Tirem tinggal di sana sejak sekitar abad ke 2 Masehi. Periuk buatannya sangat terkenal. “Bahkan bajak laut sampai menyerang tempat Aki Tirem,” terang lulusan UI ini.

Dulu tempat tinggal Aki Tirem belum disebut Warakas, melainkan Tanjung. Dan karena kehandalannya membuat periuk, kawasan tempat tinggal Aki Tirem disebut sebagai Tanjung Periuk lalu berubah menjadi Tanjung Priok.

Sedang terkait nama Mbah Priok atau Habib Hasan bin Muhammad Al-Hadad, Rizal menjelaskan, kisahnya baru bermula pada abad ke-17. Mbah Priok kala itu  diketahui terdampar dan meninggal di sekitar kawasan Tanjung Priok dengan hanya meninggalkan dayung dan periuk nasi.

“Dalam sejarah Betawi, makam Mbah Priok sebenarnya tidak begitu terkenal. Yang lebih memiliki akar Betawi yakni makam di Luar Batang, Kramat Groak Condet, atau makam Si Pitung,” tambahnya.

Namun bagaimanapun makam Mbah Priok sudah menjadi mitos dan legenda di masyarakat. “Pemerintah harus menghormati tradisi yang ada di sana,” tutupnya.

(detiknews.com 15/04/2010)

TJX Hacker to Plead Guilty to Heartland Breach

Posted using ShareThis

Laman Berikutnya »