Islam


 

So began a recent confrontation at Manouba University on the outskirts of Tunis, Tunisia’s capital, where tensions have been running high for nearly a year. Here a handful of ultraconservative Salafist students and their busloads of supporters, many from the poor interior of the country, are pitted against an urban faculty with a strong sense that this bare-bones campus with its overgrown paths is no place for prayer rooms or women who veil their faces.

The turmoil at Manouba has kept Dean Kazdaghli, who is elected by faculty representatives, at the top of the news and editorial pages, sometimes admired for his embrace of a secular campus, sometimes derided for letting things get out of control or for failing to acknowledge the needs of the Salafist students.

 

http://www.nytimes.com/2012/06/12/world/africa/tensions-at-manouba-university-mirror-turbulence-in-tunisia.html?_r=1

  •  

    • . “Saya mencoba untuk mencegah (disentuh), tapi Mrs Michelle tangannya terlalu jauh ke arahku (jadi) kita bersentuhan,” kata Menteri Informasi Tifatul

       

    • Tifatul Sembiring disebut juga berbagi antusiasme menyambut Obama. Dia tersenyum lebar sambil menjabat tangan Presiden, dan kedua tangannya memegang Michelle Obama. Tapi kemudian ia mengatakan terpaksa melakukan kontak fisik tersebut.

       

    • Bintang porno asal Norwegia, Vicky Vette, rupanya mengikuti perkembangan berita seputar jabat tangan antara Tifatul Sembiring dengan Michelle Obama yang terkesan kontroversial baru-baru ini.
      Vicky menulis pesan dalam akun Twitter tadi malam, “@tifsembiring Come to the USA and shake anything you want :)” Vicky juga menulis bahwa Tifatul dapat menyentuhnya kapan pun ia mau di depan umum.

      “Hmmm, saya ingin menjadi orang yang ‘berguna’ juga bagi Menteri Komunikasi Indonesia!” tambah Vicky.

       

    • “Agak narsis! Tifatul jarang banget minta maaf secara resmi kalo dia salah. Dia cuma minta maaf via twitter saja, yang sama sekali tidak tergolong resmi. Setiap nge-tweet dia dihujat. Untuk sekelas Menteri seharusnya bilang saja kejadian itu merupakan unsur ketidaksengajaan,” ungkap Djinot, frontman band The Kawans.

       

    • Presiden kalau memang orangnya aware mestinya milih-milih untuk orang yang akan bertemu dengan tamu negara. Tidak usahlah hal-hal kayak begitu terjadi. Itu tamu negara lho, memang istrinya Obama haram ya?” umpat Farid, frontman band Killed By Butterfly.

       

    • “Kalau saya menjadi Tifatul, pasti sudah saya ‘sikat’ tuh si Vicky Vette. Tetapi saya akan ‘bermain bersih’ dan jangan sampai ketahuan masyarakat,” terang Sadat, gitaris Komunal.

       

  •  

    tags: albright islam west undertanding

    •  

  • We must emphasize the firm connection that exists between democratic and Islamic values while also heeding the lesson of Iraq, which is that democracy must find its roots internally. Neither Islam nor any other religious faith should be used to justify despotism or to validate the suppression of civil society.
    First, we must be willing to conduct an honest self-examination that does not gloss over differences or duck hard issues. Superficial courtesy is easy, but the path to agreement on the application of moral principles is arduous. A dialogue that matters will examine, among other topics, the legacy of imperialism, women’s rights, freedom of worship, the criteria for just war, educational standards, and the appropriate relationship between religious and civil law.

    •  
    •  
    •  

 

        • Ratusan orang menghadiri upacara penghormatan terakhir bagi jenazah para korban penyerangan di  Baghdad.  Termasuk diantaranya jenazah kedua pastor yang tertembak dalam serangan kelompok Al Qaida hari Minggu lalu, Pastor Taher Saadallah Boutros dan Wassim Sabih.

    • Namun  upacara penghormatan jenazah berulangkali terusik, ketika lebih banyak lagi peti-peti mati yang dibawa masuk ke dalam gereja.

  • Seorang jemaat menceritakan: Kami sedang berdoa ketika serangan terjadi. Kami mendengar tembakan dan mereka merangsek ke dalam gereja. Mereka menahan kami di ruangan dan tak memperbolehkan siapapun kabur. Begitu banyak yang terbunuh di dalam maupun luar gereja.“

 

  • Perdana Menteri Irak Nuri al Maliki dilaporkan memerintahkan penangkapan komandan polisi di distrik Karrada karena dianggap lalai menjalankan tugas pengamanan.

    Setelah insiden itu, banyak warga Kristen menyebutkan situasi ini akan mendorong semakin banyak eksodus warga Kristen dari Irak.  Jumlah warga Kristen di Irak sebelum invasi militer Amerika Serikat berjumlah 800 ribu orang, namun kini jumlahnya telah menyusut hingga 500 ribu orang.

 

Posted from Diigo. The rest of my favorite links are here.

http://www.diigo.com/annotated/37862d7991b90418bcea387c03fd3ae5

  • “Faktanya tidak bisa ditutup-tutupi: di negara-negara Islam, warga asing dan berbagai kelompok minoritas agama dan suku bangsa, nyaris tidak punya hak apa pun. Di hampir semua negara Islam mereka menjadi sasaran diskriminasi. Dan hal ini tampaknya diterima oleh (hampir) semua orang. Seolah sesuatu hal yang normal. Misalnya, nasib para buruh di negara-negara teluk. Keadaannya mendekati sistem perbudakan. Mereka praktis tidak punya status hukum. Apalagi dalam hal-hal yang menyangkut hak budaya dan agama mereka. Di seluruh semenanjung Arab, hanya ada satu gereja: persisnya di Qatar. Dan negeri kecil ini memang terkenal, sering bikin jengkel tetangga raksasa mereka, Arab Saudi.”

  • Penghinaan Saat ini Geert Wilders harus mempertangung-jawabkan berbagai pernyataannya mengenai Islam di muka pengadilan. Fakta bahwa sejumlah kecil kaum pendatang dan beberapa orang Belanda asli mampu menyeret seorang politikus berpengaruh ke pengadilan, sudah merupakan bukti gamblang. Ini gambaran kekuasaan hukum.

    Bagi orang-orang berlatar belakang Islam, tidak mudah untuk membiarkan begitu saja berbagai pernyataan provokatif Geert Wilders tentang Islam. Namun, pada hakekatnya, itu semua hanya penghinaan ordiner. Tidak lebih, dan tidak kurang.

  • Di sini (belanda -red), kita menjadi bagian dari suatu masyarakat, yang berdasar pada prinsip, semua orang, tanpa membedakan asal-usul, atau keyakinan, punya hak sama. Semua orang punya hak yang sama dalam urusan menerapkan keyakinan atau budaya mereka. Dan kita harus menindak-lanjuti pandangan seperti itu, juga di negeri asal kita sendiri.

  •  

       

Irshad Manji wanita muslim lahir 1968 di Uganda dari ibu India Gujarat dan ayah Mesir. Keluarganya pindah ke Canada tahun 1972 karena diusir rezim Idi Amin.  Pendidikan dasar dan menengahnya di sekolah Islam dan umum lalu menyelesaikan studi tentang sejarah pemikiran di Universitas British Columbia. Duapuluh tahun lamanya Manji menekuni Islam dan bahasa Arab. Bukunya “The Trouble with Islam Today” (2004) langsung menggemparkan dunia Islam dan Barat. Dan sekarang sudah diterjemahkan dalam 30 bahasa, termasuk Indonesia. Manji juga pejuang hak-hak wanita Islam untuk kesetaraan dan menghapus penindasan.

Petikan dari buku Irshad Manji Bab 7 Operasi Ijtihad:

irshad_manjibbc“Adat kehormatan Arab menuntut pengorbanan individualitas Anda (kaum perempuan) guna mempertahankan reputasi, status, dan harapan suami, ayah, dan saudara laki-laki Anda. Tetapi, mempertanyakan hal semacam ini sebenarnya menunjukkan bahwa Anda bukanlah harta benda milik komunitas Anda. Anda adalah diri Anda sendiri, bertindak atas nama Anda sendiri, mengekspresikan pemikiran Anda sendiri, dan mengomunikasikan pemikiran itu dengan suara Anda sendiri. Anda memiliki martabat. Dan, bagusnya, hal inilah yang diinginkan oleh Nabi Muhammad bagi semua kaum muslim—selayaknya kita mentransendensikan kesukuan dan impuls-impuls neurotiknya yang berpandangan sempit; impuls-impuls yang menjadikan Arab abad ke-7 sebuah lahan yang penuh ketidakadilan, kebencian, dan kekerasan. Dengan memerdekakan talenta-talenta wirausahawan muslimah, kita di abad ke-21 ini dapat membantu mengubah kehormatan menjadi martabat, dan dengan begitu mereformasi bagaimana Islam dipraktikkan.

Mendukung para wirausahawan muslimah akan merupakan tujuan nomor satu Operasi Ijtihad, sebuah kampanye untuk memulihkan kemanusiaan Islam.

Aku tidak sedang menominasikan diriku sebagai pemimpin kampanye yang belum lahir ini. Sebetulnya, aku tidak berpikir keharusan adanya seorang pemimpin. Melepaskan belenggu yang terdapat dalam dunia Islam merupakan usaha ambisius yang menuntut adanya kekuatan gabungan. Orang Barat termasuk di dalamnya, jika kita ingin memberikan tamparan kepada tribalisme. Pertaruhan ini menuntut adanya sebuah visi lintas budaya. Peristiwa 11 September merupakan peringatan yang jelas tentang apa yang bisa terjadi jika kita bersembunyi dari masalah-masalah “orang lain”. Sebuah pelajaran bahwa kewarganegaraan dunia yang baik memberikan keuntungan sangat besar bagi keamanan domestik. Terlepas apakah orang Barat mau menerima kenyataan ini atau tidak, orang Barat harus menerimanya.

Dan mereka harus menerimanya sekarang, karena kaum muslim Arab sedang mengalami booming anak. Sekitar 60% penduduk di negara-negara Arab berumur di bawah dua puluh tahun, dibandingkan dengan hanya 29% persen di Amerika. Banyak kaum muda muslim Arab memiliki pendidikan Universitas, tetapi kebanyakan tidak memiliki harapan bekerja. Anda pasti tahu bahwa hal seperti itu bukan berita yang menggembirakan. Orang yang menganggur sering tertarik kepada organisasi-organisasi radikal yang menjanjikan makanan gratis, aktivitas penuh tujuan, dan katup pelepasan amarah. Asumsikan satu generasi lagi dan jumlah kaum muslim Arab diproyeksikan meningkat sampai 40%—dari hampir 300 juta sekarang ini menjadi 430 juta pada tahun 2020. Siapa pun yang menjauhkan anak-anak ini dari partisipasi ekonomi dan sipil akan menimbulkan kekacauan yang dapat menggemparkan planet ini. Booming anak Arab adalah masalah bagi Barat, sekaligus bagi Timur Tengah.

Separuh kaum muda Arab yang disurvei oleh PBB pada tahun 2001 mengatakan bahwa mereka ingin pindah, dan sebagian besar sangat mendambakan pergi ke Barat. Keinginan itu cukup besar, sehingga di tahun 2000 Australia melakukan kampanye pencegahan perpindahan di Timur Tengah dan Asia Tengah, dengan tujuan memperingatkan para imigran ilegal tentang buaya, ular, dan serangga yang mungkin mereka temui setelah tiba di Australia. Tetapi di sisi lain, Barat tidak dapat maju tanpa kaum imigran. Penduduk Uni Eropa, Amerika, Jepang, Kanada, dan Australia menua dengan cepat, sementara angka kelahirannya kecil. Wilayah-wilayah ini membutuhkan para pekerja baru untuk mempertahankan tingkat konsumsi, penerimaan pajak, dan layanan-layanan sosial—terutama bagi kaum tua. Singkatnya, Barat membutuhkan kaum muslim.

Yang tidak dibutuhkan oleh Barat adalah orang-orang semacam Mohamed Atta. Mahasiswa Hamburg dan salah seorang pembajak dalam peristiwa 11 September ini menelan mentah-mentah Al-Quran seperti dia menelan mentah-mentah pelajaran computer programming. Meski dibesarkan di lingkungan yang agak sekuler, mendapat gelar sarjana teknik di Mesir, dan kuliah pascasarjana di Jerman, Atta tampaknya tidak mampu (atau tidak tertarik) untuk mempertanyakan para ahli tafsir Islam yang otoriter.

Akan tetapi, Barat membutuhkan orang-orang Islam yang mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit, dan terjadinya Operasi Ijtihad di luar negeri menjadi penting demi tujuan ini. Mengapa menunggu sampai jutaan lagi kaum muslim muncul di pos-pos pemeriksaan Australia, Jerman, dan Amerika Utara? Alangkah bagusnya jika kaum muslim yang menuju tempat-tempat itu tiba dengan memiliki pemahaman bahwa Islam dapat dipraktikkan dengan cara-cara yang mendukung pluralisme, bukan malah mencekiknya. Lalu bagaimana kita menabur benih-benih reformasi di dunia Islam—tanpa harus menjadi penjajah budaya?…”

sumber :

http://www.irshadmanji.com/indonesian-edition?itemid=210