• CPI kurang dapat diandalkan, karena yang tercatat hanya orang-orang yang menerima sogok, dan juga hanya kasus penyogokan yang tampak jelas pada orang tersebut. Padahal korupsi selalu melibatkan dua pihak, baik yang menerima sogok maupun yang berusaha mendapat keuntungan dengan cara memberikan sogokan.


      Hal ini menyebabkan negara-negara industri berada di peringkat teratas pada daftar CPI, sementara negara-negara berkembang dikatakan memiliki kuota korupsi yang tinggi. Padahal sering negara-negara industri majulah yang mulai menawarkan suapan.


      Untuk mengoreksi kerancuan tersebut, Transparency International juga membuat indeks lain, yaitu Indeks Pembayar Suap (BPI). Indeks ini menunjukkan sebesar apa kemungkinan, bahwa pengusaha dari negara-negara pengekspor membayar uang suap kepada politisi atau jawatan di negara lain. BPI dibuat setiap dua tahun, tetapi sejauh ini tidak terlalu terkenal seperti CPI. 

    • Indeks ketiga Transparency International disebut Barometer Korupsi Gobal (GCB). Berbeda dengan CPI dan BPI, yang hanya berisi jawaban dan keterangan dari pakar atau pengusaha, GCB berisi hasil jajak pendapat umum tentang korupsi yang benar-benar terjadi dan yang hanya diperkirakan sebagai korupsi. Untuk indeks itu orang-orang awam ditanyai, apa yang mereka ketahui tentang korupsi di perusahaan, dalam politik, di badan-badan negara dan kehidupan pribadi. Indeks itu memungkinkan pengukuran yang lebih terperinci lagi, dan hasilnya juga lebih tepat.

Iklan