Masih dalam suasana lebaran, tadi pagi sekitar pkl 9.00 WIB (12/11)  seorang anggota Majelis HKBP, St.A.Sihombing ditusuk orang tak dikenal dibagian perutnya. Pendeta A.Simanjuntak yang berada dalam rombongon jemaat yang hendak beribadah ke HKBP Pondok Timur juga dipukul. Delapan orang tak dikenal naik sepeda motor tiba-tiba menyerang rombongon.(baca Detik.com disini)

Kapolres Bekasi Kombes Imam Sugianto mengatakan, pengejaran sedang dilakukan dan para pelaku akan dikenakan Pasal 351 ayat 2 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan luka berat.  (lihat Detik.com disini). Apakah penerapan pasal ini sudah tepat dan apakah Kapolres tidak terlalu pagi mengkualifikasikan sebagai kejahatan biasa. ? Lagipula mengapa penjagaan polisi kepada jemaat sangat minim?

Sulit untuk tidak mengaitkan peristiwa penyerangan itu dengan segala gangguan oleh kelompok orang tertentu yang terjadi belakangan ini di HKBP Pondok Timur.  Gereja ditutup dan dihalang-halangi beribadah sudah menjadi berita yang diketahui luas.  Apakah Kapolres tidak mengetahuinya maka mengkategorikan sebagai kriminal biasa?.  (baca juga Mulya Lubis, “Penusukan ini bukan kriminalitas biasa” Kompas.com disini).

Seakan-akan Kapolres mengatakan ada “perkelahian” biasa  lalu ada korban ditusuk atau dipukul. Pasal ini memang cocok untuk perkelahian.! Semestinya peristiwa ini dapat diduga dengan akal sehat tujuannya untuk menimbulkan ketakutan kepada orang-orang untuk beribadah.  Orang-orang menjadi berpikir dua kali, atau setidaknya harus dengan pengawalan polisi agar mau beribadah. Apakah ini bukan bentuk teror?

Haruslah diingat bahwa pengertian terorisme dalam UU Anti Terorisme tidak mensyaratkan adanya bom, atau granat atau bahan peledak. Unsur utama yang harus dipenuhi untuk dapat dikualifikasi sebagai terorisme adalah adanya penggunaan kekerasan dan untuk menimbulkan suasana takut yang luas. (lihat Pasal 6 Perpu No 1 tahun 2002 jo UU No 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme ).  Rumusan ini adalah delik formil artinya kalau rumusannya terpenuhi maka sudah memenuhi maksud delik.  Jadi kalau sipenyerang bermaksud agar timbul rasa takut meluas di jemaat yang beribadah dan penyerang melakukan cara kekerasan, menikam dan memukul, apakah ini bukan terorisme?

Diharapkan korban dapat segera pulih dan para pelaku dapat segera diciduk aparat agar persoalannya jelas, apa yang melatarbelangi penyerangan apa motif penyerang.  Apakah peristiwa itu terjadi kebetulan atau ada rencana penyerangan? Apakah pelaku berdiri sendiri atau ada otak (auctor intellectual) dibelakangnya? Ini semua harus diungkap dan polisi tak perlu segan-segan memasukkan Pasal UU Anti terorisme. Agar kiranya ada efek jera bagi para penyerang orang yang beribadah.

Iklan