II Prancis

Factory, Manufacture and Workplace Act tahun 1803 di Prancis telah diterima secara luas sebagai suatu sistem pertama yang  menerapkan  pidana buat orang yang memakai cap orang lain seperti miliknya sendiri.  Selanjutnya UU Pidana tahun 1810 Pasal 142 dan UU Tahun 1824 Pasal 433, telah ditentukan ancaman pidana untuk penggunaan nama orang lain dan penyalahgunaan nama untuk bidang-bidang produksi.
Bagaimanapun sistem ini belumlah semaju sistem merek yang kita kenal sekarang. Prancis kemudian tahun 1857 pertama kali membentuk suatu sistem merek komprehensif dengan dikeluarkannya UU Factory, Manufacture, yaitu suatu sistem deposit merek yang menggabungkan teori berdasarkan pemakaian (use-based) dan eksaminasi pendaftaran.(registration). Sampai dikeluarkannya UU tersebut Prancis sudah memberlakukan sistem pemakaian. Ternyata di wilayah koloni Prancis sistem lama ini masih berlangsung. UU ini dirubah sebagian pada tahun 1890, 1944 lalu tahun 1964.  Tahun 1964 sistem berdasar pendaftaran diberlakukan sehingga hak atas merek mulai ada sejak pengajuan pendaftaran (filing), dan hak akan hilang kalau merek tak digunakan.  Hukum merek yang sekarang diberlakukan tahun 1991.  Konsep-konsep seperti perlindungan merek terkenal, merek 3 dimensi, sistem publikasi aplikasi, merujuk pada panduan European Community (EC).

III Inggeris

Berdasarkan sistem common law, penipuan (fraud) dan penggunaan tidak wajar atas merek dikenal sebagai “passing off”, suatu sarana hukum yang masih berlaku sampai sekarang. Ketentuan Equity ditambahkan untuk merek common law, tapi Inggeris tidak membuat suatu sistem komprehensif sampai tahun 1905. Hampir 50 tahun setelah Prancis.  Sebelum “Merchandise Marks Act” 1862 yang berfokus pada ketentuan indikasi penyesat (deceptive).  Trade marks Registration Act diundangkan tahun 1875.  UU 1905 tersebut dirubah 1919 dan 1937 sampai lahirnya UU baru tahun 1938.  UU ini secara mendasar merubah sistem dimana dibolehkan pendaftaran berdasarkan “intent to use”, membentuk suatu proses eksaminasi dan sistem pengumuman aplikasi.  Inggeris melengkapi sistemnya dengan hukum Prancis pada masa itu.  Akibatnya Amerika Serikat dan Jepang sangat dipengaruhi UU 1938 itu.

Trademark Act 1938 mengandung konsep baru seperti “merek asosiatif” (associated trademarks), sistem consent to use, merek defensif, sistem non – claiming.  Berbeda dengan Amerika Serikat masa itu, sekalipun tanpa pemakaian actual, seorang pemohon yang memiliki “bona fide intent to use” , maksud memakai dengan itikad baik, suatu merek dapat memperoleh pendaftaran.  Di pihak lain,  berbeda dengan Jepang dan Jerman, Inggeris hanya menentukan anggapan pada pemilikan merek bukan “hak pasti”.  Selanjutnya sistem pendaftaran merek jasa diatur pada tahun 1986.  Sejak 1995 lima negara G5 (Inggeris, Amerika, Jerman, Prancis, Jepang) mengakui sistem pendaftaran merek jasa. Hampir semua negara industri sudah memiliki sistem pendaftaran merek jasa sekarang.  Mengikuti arahan EC, Inggeris lalu memperluas cakupan mereknya dengan merubah persyaratannya,  pada tahun 1994. Merek defensif dan asosiatif dari UU 1938 dihapuskan. Di Jepang merek asosiatif dan defensif yang sangat dipengaruhi hukum Inggeris tapi masih mempertahankan sistem merek defensif, hanya menghapus merek asosiatif saja dalam perubahan tahun 1996.

selanjutnya Jerman dan Amerika Serikat disini

Baca sebelumnya disini

Iklan