Merek haruslah untuk barang dagang. Disyaratkan adanya barang dalam perdagangan di masyarakat yang berdasarkan sistem tukar menukar. Jadi tidak ada merek untuk barang semata. Merek bukan hanya mengidentifikasikan barang tapi juga membedakan barang-barang dari berbagai sumber. Karena suatu hubungan persaingan ada maka suatu merek yang sangat sederhana tidak cukup. Sudah sejak zaman dulu ada perdagangan barang dan begitu juga merek berkembang sedemikian rupa.

Asal usul merek bisa dilacak sampai asal mula perputaran barang. Sejarah merek berumur hampir sama dengan umat manusia dan agama. Di Mesir para arkeolog menemukan berbagai simbol untuk tujuan keagamaan. Merek “potter” ditemukan untuk membedakan pembuatnya (potter) dengan kapal tertentu. Zaman sekarang mungkin sulit kita golongkan potter ini sebagai merek tapi sudah banyak orang spesialis meneliti merek potter.

Metode-metode untuk membedakan atau identifikasi selanjutnya berkembang. “Proprietary mark” berbentuk simbol atau nama dipakai untuk barang untuk memampukan seseorang membedakan penguasaan bendanya dengan orang lain. Tukang ukir kayu membuat namanya, gambar unik atau inskripsi sederhana guna membedakan karyanya dari orang lain. Biarpun merek-merek ini membantu orang membedakan suatu barang tetapi sulit mengatakan itu adalah merek dengan daya beda dalam arti moderen. Simbol-simbol yang dipakai pada barang-barang pada zaman Romawi kuno dan negeri sekitar Laut Tengah punya ciri yang sama dengan merek sekarang ini. Karena di wilayah ini dipandang kawasan paling aktip sirkulasi barangnya maka merekpun berkembang disini. Tetapi belum dikenal sistem kepemilikan atas merek.

Pada abad 10 lahir mereknya para pedagang (merchant mark), suatu tampilan simbol-simbol diantara para pedagang yang bentuknya sangat sederhana. Bisa cuma garis linear saja.

Zaman pertengahan, para pengrajin dan pedagang gilda-gilda menempelkan suatu tanda pada barang untuk membedakan mutu barang gildanya dengan yang lain. Menumbuhkan kepercayaan pad gilda tertentu. Merek ini disebut “merek produksi” (production marks) yang digunakan untuk menghukum manufaktur yang mutu barangnya jelek dibawah standar yang ditentukan. Ini juga dimaksudkan mempertahankan monopoli oleh anggota gilda. Konsumen juga tertolong karena bisa mengenali barang yang tidak bermutu, misalnya beratnya kurang, bahannya tidak bagus, barang kerajinannya jelek. Karena merek ini seperti memenuhi kewajiban tertentu ketimbang kepentingan diri sendiri, maka dikenal juga di Jerman dengan nama “merek polisi” (polizeizeichen) atau “merek tanggung jawab” (pflichtzeichen). Bukan saja dimaksudkan untuk membedakan asal usul barang tapi juga sebagai indikator mutu. Kalau merek moderen dimaksudkan memastikan mutu dan keunggulan barang tertentu maka merek tanggung jawab tersebut bertanggung jawab untuk membuka barang yang jelek dan rusak. Begitu suatu merek tanggung jwab sudah diakui maka dia tidak mudah digantikan. Perlu diketahui simbol-simbol ini tidak untuk kepentingan produksi pemilik merek tapi untuk gilda.

Dari zaman Pertengahan merek polisi, merek tanggung jawab perlahan-lahan berkembang menuju Revolusi Industri. Gilda-gilda pecah, bisnis-bisnis bebas didirikan. Merek mulai ditujukan untuk merujuk pada asal usul barang bukan lagi kepentingan gilda. Hukum pidana mulai dikembangkan untuk menghindarkan pemalsuan dan penipuan. Perlindungan hukum perdata pun mulai bekerja untuk perlindungan atas pemakaian merek tanpa izin yang disebut “infringer”.

selanjutnya baca disini Prancis dan Inggeris

Iklan