Yang pertama patut diacungi jempol ialah terobosan Mahkamah Konstitusi yang memerintahkan KPK memperdengarkan rekaman penyadapan yang terkait dengan upaya kriminalisasi Bibit dan Hamzah.  Anggodo bersama para petinggi hukum diduga telah “mengatur” hukum sedemikian rupa agar Bibit- Chandra Hamzah masuk bui.  Tim pencari fakta bentukan presiden juga hadir mendengarkan.  Nama-nama Susno Duaji Kabareskrim, Ritonga yang Wakil Jaksa Agung sangat mungkin terlibat dalam rekayasa.  Kalau ini  benar, alangkah mengerikan.!  Koruptor ternyata masih duduk di singgasana. Sukses pemberantasan korupsi masih isapan jempol. Meminjam istilah Denny Indrayana yang sekarang menjadi staf Presiden SBY, dan lalu kehilangan gregetnya,  negeri ini adalah Negeri Para Mafioso. Mafioso di tubuh Polri, Kejaksaan, dan diramaikan para advokat membuat riuhnya pesta aliansi mafioso – koruptor.Tim Pencari Fakta bentukan Presiden juga menyimak sidang Mahkamah.  Apa yang ada di benak mereka?  Sebagian tapping grafkalangan meragukan efektifitas Tim dalam membongkar kasus ini apalagi kalau menyentuh kekuasaan.  Sudah santer di masyarakat isu kasus Century terkait kekuasaan, dengan kriminalisasi Bibit-Hamzah, dengan Susno dan Polri.  Mampukah Tim bekerja tuntas? Dan kalau hanya sekedar memberi rekomendasi – untuk apa?

Momentum ini yang dibaca oleh Ketua Mahkamah Mahfud.MD, meski MK tidak punya wewenang langsung dalam proses  pidana.  Tetapi mau ditunjukkan bahwa publik punya hak  agar proses hukum berlangsung transparan dan adil.

Sekarang saatnya.  Tiba sekarang untuk melakukan reformasi total aparat penegak hukum khususnya Polri dan Kejaksaan serta Mahkamah Agung.  Bukan cuma reformasi on paper.  Karena di kertas sudah  terlalu banyak konsep dan masuk laci.  Disini harus dicakup penguatan KPK, proses penyidikan dan peradilan pidana yang transparan dan akuntabel.  Jangan cuma berhenti pada aksi mencopot pejabat ini lalu diganti itu.

Kita saksikan gelombang protes masyrakat yang mungkin masih akan berlangsung minggu-minggu mendatang.  TPF harus buktikan kemampuannya membuat terobosan,  bukan sekedar menghibur kekecewaan  yang meluas.

Kalau ketidakpercayaan masyarakat (public distrust) berlarut-larut akan menggumpal menjadi pembangkangan sosial yang ujung-ujungnya disorganisasi sosial.  Bahaya.

Iklan