Irshad Manji wanita muslim lahir 1968 di Uganda dari ibu India Gujarat dan ayah Mesir. Keluarganya pindah ke Canada tahun 1972 karena diusir rezim Idi Amin.  Pendidikan dasar dan menengahnya di sekolah Islam dan umum lalu menyelesaikan studi tentang sejarah pemikiran di Universitas British Columbia. Duapuluh tahun lamanya Manji menekuni Islam dan bahasa Arab. Bukunya “The Trouble with Islam Today” (2004) langsung menggemparkan dunia Islam dan Barat. Dan sekarang sudah diterjemahkan dalam 30 bahasa, termasuk Indonesia. Manji juga pejuang hak-hak wanita Islam untuk kesetaraan dan menghapus penindasan.

Petikan dari buku Irshad Manji Bab 7 Operasi Ijtihad:

irshad_manjibbc“Adat kehormatan Arab menuntut pengorbanan individualitas Anda (kaum perempuan) guna mempertahankan reputasi, status, dan harapan suami, ayah, dan saudara laki-laki Anda. Tetapi, mempertanyakan hal semacam ini sebenarnya menunjukkan bahwa Anda bukanlah harta benda milik komunitas Anda. Anda adalah diri Anda sendiri, bertindak atas nama Anda sendiri, mengekspresikan pemikiran Anda sendiri, dan mengomunikasikan pemikiran itu dengan suara Anda sendiri. Anda memiliki martabat. Dan, bagusnya, hal inilah yang diinginkan oleh Nabi Muhammad bagi semua kaum muslim—selayaknya kita mentransendensikan kesukuan dan impuls-impuls neurotiknya yang berpandangan sempit; impuls-impuls yang menjadikan Arab abad ke-7 sebuah lahan yang penuh ketidakadilan, kebencian, dan kekerasan. Dengan memerdekakan talenta-talenta wirausahawan muslimah, kita di abad ke-21 ini dapat membantu mengubah kehormatan menjadi martabat, dan dengan begitu mereformasi bagaimana Islam dipraktikkan.

Mendukung para wirausahawan muslimah akan merupakan tujuan nomor satu Operasi Ijtihad, sebuah kampanye untuk memulihkan kemanusiaan Islam.

Aku tidak sedang menominasikan diriku sebagai pemimpin kampanye yang belum lahir ini. Sebetulnya, aku tidak berpikir keharusan adanya seorang pemimpin. Melepaskan belenggu yang terdapat dalam dunia Islam merupakan usaha ambisius yang menuntut adanya kekuatan gabungan. Orang Barat termasuk di dalamnya, jika kita ingin memberikan tamparan kepada tribalisme. Pertaruhan ini menuntut adanya sebuah visi lintas budaya. Peristiwa 11 September merupakan peringatan yang jelas tentang apa yang bisa terjadi jika kita bersembunyi dari masalah-masalah “orang lain”. Sebuah pelajaran bahwa kewarganegaraan dunia yang baik memberikan keuntungan sangat besar bagi keamanan domestik. Terlepas apakah orang Barat mau menerima kenyataan ini atau tidak, orang Barat harus menerimanya.

Dan mereka harus menerimanya sekarang, karena kaum muslim Arab sedang mengalami booming anak. Sekitar 60% penduduk di negara-negara Arab berumur di bawah dua puluh tahun, dibandingkan dengan hanya 29% persen di Amerika. Banyak kaum muda muslim Arab memiliki pendidikan Universitas, tetapi kebanyakan tidak memiliki harapan bekerja. Anda pasti tahu bahwa hal seperti itu bukan berita yang menggembirakan. Orang yang menganggur sering tertarik kepada organisasi-organisasi radikal yang menjanjikan makanan gratis, aktivitas penuh tujuan, dan katup pelepasan amarah. Asumsikan satu generasi lagi dan jumlah kaum muslim Arab diproyeksikan meningkat sampai 40%—dari hampir 300 juta sekarang ini menjadi 430 juta pada tahun 2020. Siapa pun yang menjauhkan anak-anak ini dari partisipasi ekonomi dan sipil akan menimbulkan kekacauan yang dapat menggemparkan planet ini. Booming anak Arab adalah masalah bagi Barat, sekaligus bagi Timur Tengah.

Separuh kaum muda Arab yang disurvei oleh PBB pada tahun 2001 mengatakan bahwa mereka ingin pindah, dan sebagian besar sangat mendambakan pergi ke Barat. Keinginan itu cukup besar, sehingga di tahun 2000 Australia melakukan kampanye pencegahan perpindahan di Timur Tengah dan Asia Tengah, dengan tujuan memperingatkan para imigran ilegal tentang buaya, ular, dan serangga yang mungkin mereka temui setelah tiba di Australia. Tetapi di sisi lain, Barat tidak dapat maju tanpa kaum imigran. Penduduk Uni Eropa, Amerika, Jepang, Kanada, dan Australia menua dengan cepat, sementara angka kelahirannya kecil. Wilayah-wilayah ini membutuhkan para pekerja baru untuk mempertahankan tingkat konsumsi, penerimaan pajak, dan layanan-layanan sosial—terutama bagi kaum tua. Singkatnya, Barat membutuhkan kaum muslim.

Yang tidak dibutuhkan oleh Barat adalah orang-orang semacam Mohamed Atta. Mahasiswa Hamburg dan salah seorang pembajak dalam peristiwa 11 September ini menelan mentah-mentah Al-Quran seperti dia menelan mentah-mentah pelajaran computer programming. Meski dibesarkan di lingkungan yang agak sekuler, mendapat gelar sarjana teknik di Mesir, dan kuliah pascasarjana di Jerman, Atta tampaknya tidak mampu (atau tidak tertarik) untuk mempertanyakan para ahli tafsir Islam yang otoriter.

Akan tetapi, Barat membutuhkan orang-orang Islam yang mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit, dan terjadinya Operasi Ijtihad di luar negeri menjadi penting demi tujuan ini. Mengapa menunggu sampai jutaan lagi kaum muslim muncul di pos-pos pemeriksaan Australia, Jerman, dan Amerika Utara? Alangkah bagusnya jika kaum muslim yang menuju tempat-tempat itu tiba dengan memiliki pemahaman bahwa Islam dapat dipraktikkan dengan cara-cara yang mendukung pluralisme, bukan malah mencekiknya. Lalu bagaimana kita menabur benih-benih reformasi di dunia Islam—tanpa harus menjadi penjajah budaya?…”

sumber :

http://www.irshadmanji.com/indonesian-edition?itemid=210

Iklan