Kompas memuat wawancara menarik dengan Nono Anwar Makarim mengenai masalah Israel Palestina.(kompas.com).

Mencari Titik Temu Israel-Palestina

Nono Anwar Makarim (69) adalah seorang ahli hukum. Namun, spektrum perhatiannya melintasi berbagai disiplin ilmu. Tidak heran, tulisan-tulisannya di media massa amat beragam: dari masalah hukum, politik, hubungan internasional, ekonomi, sosial-budaya, hingga seni.

Ketika kami temui di rumah kerjanya yang asri di Pondok Labu, Jakarta Selatan, Rabu (14/1) siang, Nono sedang merampungkan tulisan pengantar untuk katalog pameran pelukis abstrak, Hanafi. Sebelumnya, ketika Israel sedang gencar-gencarnya membombardir Gaza, dia menulis kolom menarik tentang peristiwa tragis itu di majalah Tempo.

Mengapa perhatian Nono meluas hingga soal konflik Palestina-Israel? Sebagai ahli hukum, mantan aktivis mahasiswa tahun 1966 itu terbiasa memerhatikan semua detail. Detail bisa menguak kebenaran, bahkan mengonstruksi keseluruhan.

”Kalau detailnya kurang atau sebagian dihapus, akan lain ceritanya. Detail itu absolut dan penting,” ujar laki-laki yang pernah jadi fellow pada Center for International Affairs di Harvard University, Amerika, itu.

Disiplin ilmu hukum membiasakan Nono memilah-milah mana detail yang penting, sangat penting, dan sepele. Metode inilah dia gunakan dalam melihat peristiwa politik seperti konflik Palestina-Israel. Pengalamannya melihat konflik itu dari dekat saat mengunjungi Beirut tahun 2007 silam memberinya perspektif lebih realistis.

Sebagaimana kita ikuti, Israel menyerang permukiman warga di Jalur Gaza sejak akhir Desember 2008. Memasuki hari ke-22 sekarang ini, korban warga Gaza mencapai 1.000 orang lebih. Serangan begitu membabi buta sampai menggempur Markas Badan Bantuan Sosial dan Pekerja PBB (UNRWA) di Gaza. Diduga, Israel menggunakan senjata kimia fosfor putih yang dilarang saat perang.

Bagaimanakah kemungkinan mengakhiri konflik yang berkecamuk sejak tahun 1948 itu? Kita dengarkan saja pandangan Nono.

Apa detail penting dalam konflik Israel-Palestina?

Kita tahu, di Israel akan ada pemilu dan sekarang elitenya sedang bersaing memperebutkan hati rakyat. Pergantian kepemimpinan di AS membuat kebijakan negara itu di Timur Tengah menjadi tidak pasti.

Di Palestina, ada konflik Hamas-Fatah. Fatah korup. Hamas didukung Hezbollah, Iran, dan Irak. Negara-negara Arab punya kepentingan subyektif sendiri. Polling sebelum pengeboman oleh Israel, 74 persen warga Gaza ingin gencatan senjata diperpanjang meski itu cacat karena Gaza tetap diisolasi. Hamas mau terima opsi dua negara terpisah (dengan Israel) dalam situasi gencatan senjata jangka panjang.

Mana detail yang paling penting?

Ada keinginan warga Gaza untuk memperpanjang gencatan senjata dan kesediaan Hamas menerima opsi dua negara. Ini titik terang luar biasa yang bisa mengarah pada perdamaian.

Gencatan akan membiasakan orang-orang dalam situasi damai. Ekonomi akan berkembang, dua negara (Palestina dan Israel) tidak ada apa-apa. Kalau keadaan bagus, kekerasan pandangan akan melunak. Saat seperti itu, negosiator perdamaian bisa mulai bekerja. Namun, setelah serangan Israel ke Gaza sekarang, semuanya berantakan.

Tapi rakyat Israel justru mendukung perang kali ini?

Mereka khawatir dengan kebijakan AS di Timur Tengah di bawah Presiden Barack Obama yang belum pasti.

Sejauh mana perubahan kebijakan AS itu?

Perubahan di AS itu tidak mungkin dramatis. Suatu organisasi yang kompleks dan besar (seperti AS) tidak akan mampu bergerak secara radikal. Namun, ini tetap jadi pertanyaan buat rakyat Israel.

Perang agama

Di Indonesia, sebagian orang menganggap perang Israel-Palestina sebagai perang agama. Nono sendiri berpandangan, ini bukan perang agama, tetapi perang politik berlatar etnis dengan sejarah panjang. ”Namun, kedua pihak mengesankan, ini perang agama,” katanya.

Israel ingin menunjukkan, orang Islam sulit diajak ngomong. Bagi orang Palestina, jika perang ini dianggap perang agama, lebih mudah memobilisasi dukungan dari negara mayoritas Muslim.

Menurut Nono, setidaknya ada beberapa isu mendorong perang Palestina-Israel kali ini: persaingan politik di antara elite politik Israel, persaingan Hamas-Fatah di Palestina, dan kemungkinan pergeseran kebijakan politik luar negeri AS.

Sejauh mana politik dalam negeri Israel memicu perang kali ini?

Sebentar lagi ada pemilu di Israel. Ada tiga kekuatan yang berebut kekuasaan, yakni koalisi Kadima, Partai Likud, dan Partai Buruh. Kadima menggunakan isu Palestina untuk mendongkrak popularitasnya yang sedang turun.

(Rakyat Israel) yang mendukung perang kali ini luar biasa, hampir 100 persen, tak pandang konservatif atau moderat. Bahkan, suara-suara yang biasanya antiperang, sekarang condong ke perang.

Mengapa bisa begitu?

Ya, (rakyat Israel) seperti orang yang jengkel diganggu terus (roket Hamas), lalu nimpuk. Perang sekarang begitu keras, tanpa perikemanusiaan, karena popularitas Israel melorot ketika berperang dengan Hezbollah Lebanon tahun 2007.

Mengapa dunia diam saja?

Alasannya apa untuk intervensi? Perang mahal. Seluruh negara punya problem sendiri yang harus diurus. Siapa peduli dengan Palestina? Sementara itu, Eropa merasa punya salah kepada orang Yahudi karena kasus holocaust (peristiwa pembantaian sekitar enam juta orang Yahudi oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II).

Perdamaian

Seberapa pun ruwetnya konflik Palestina-Israel, Nono yakin konflik itu bisa diselesaikan. ”Di dunia ini banyak ahli hukum ulung dan punya pengalaman dalam proses perdamaian. Namun, mereka tetap butuh situasi yang kondusif untuk memulai negosiasi dan dukungan Barat.”

Menurut dia, ada tiga langkah yang perlu diambil untuk memulai proses perdamaian Palestina-Israel. Pertama, harus ada pasukan internasional yang mengawasi jalannya gencatan senjata dan diberi otoritas untuk mengadili pelanggaran.

Kedua, tanah-tanah yang diambil Israel dari Palestina harus dikembalikan. Ketiga, dunia internasional perlu memberi bantuan pendidikan dan kesehatan.

Siapa yang ambil peran penting dalam proses perdamaian?

AS dan Eropa. Mereka negara kaya, punya pengalaman perang dan mengawal proses perundingan. Jika mereka tidak serius mendorong penyelesaian damai, maka konflik jalan terus dan selamanya yang kuat (Israel) akan menindas yang lemah.

Mungkinkah AS memikirkan tiga langkah itu?

Saya tidak berani meramal AS. Kalau Obama memang jujur, seharusnya dia melakukan ini. Suara yang muncul sekarang menafikan korban yang besar di Palestina.

Cukupkah kebijakan luar negeri Indonesia di Timur Tengah sekarang?

Saya puas dengan kebijakan pemerintah sekarang. Menyatakan keprihatinan dan mengutuk karena Israel tak patuhi resolusi. Itu sudah baik. Keadaan kita ini payah… ya ampun! Kita tak kuat. Kita terlalu banyak problem dalam negeri. Paling dekat, Pemilu 2009.

Hikmah apa yang bisa dipetik dari konflik Palestina-Israel?

Sukses yang bisa dicapai ekstremitas itu terbatas. Suatu ketika, setelah saudara kita, ipar kita, kakak, adik tewas dalam peperangan, kita harus berpikir tentang kehidupan anak, cucu kita. Pikiran-pikiran itu akan membawa kita pada sikap yang lebih masuk akal dalam mengajukan tuntutan. Rahasia dari semua kehidupan adalah kompromi. Kita juga harus percaya pada proses, tidak semuanya sekaligus.

Iklan