Justru di bulan puasa ini M.Iqbal seorang anggota (komisioner) Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) semalam ditangkap Komisi Pemberantasan Komisi (KPK) karena diduga terima suap. M.Qbal tertangkap tangan ketika menerima uang komisi (suap) dari orang dari PT First Media di Hotel Aryaduta sebesar Rp 500,000,000,- (limaratus juta rph). Iqbal adalah mantan ketua Dewan Mahasiswa ITB, mantan anggota MPR dan tadinya penggiat LSM.

Diduga uang Rp 500 juta terkait dengan perkara Astro dalam sengketa soal monopoli penayangan Liga Inggris yang diperiksa KPPU.

Beberapa bulan lalu juga anggota komisi, Komisi Yudisial, Irawadi Yoenoes juga ditangkap KPK dan sudah di vonnis pidana penjara oleh pengadilan.  Disatu sisi kita “bangga” atas upaya KPK yang tanpa pandang bulu menangkap dan menuntut para pejabat negara, tetapi di bagian lain kita juga dibingungkan karena Komisi komisi negara yang dibentuk setelah reformasi rupa-rupanya surga bagi bandit-bandit yang bermental suap.  Padahal yang perlu disuapin hanyalah anak-anak balita yang belum bisa makan sendiri.  Pemerintah tidak perlu memolitisasi penangkapan-penangkapan yang dilakukan KPK sebagai prestasi pemerintahan sekarang. Tadinya komisi-komisi ini dibentuk sebagai organ yang bebas,  dimaksudkan untuk mengontrol jalannya aparatur pemerintahan yang terlalu kuat ketika rezim Orde Baru berkuasa.  Tetapi apa lacur,  anggota komisi negara rupanya termasuk barisan biang kerok.

Kita harapkan tidak ada anggota KPK yang ditangkap jaksa atau polisi. Kalau nanti ada … cilaka duabelas.

(foto courtersy -kompas.com)

Iklan