Denny Indrayana dosen dan penggiat Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada direkrut jadi staf ahli presiden. Denny adalah dosen Hukum Tata Negara di alma maternya – UGM – tapi lebih banyak dikenal sebagai vokalis anti korupsi yang menjuluki negeri ini sebagai “Negeri Para Mafioso“. Dengan rekrutmen ini maka bertambah lagi deretan staf ahli kepresidenan, meski ada yang mengundurkan diri yakni Yenny Wahid.

Yang menjadi sorotan sekarang, dengan rekrutmen ini maka Denny akan masuk ke lembaga formal dengan prosedur tertentu, sehingga tidak bebas lagi menjadi vokalis masyarakat anti korupsi. Dan agaknya pola rekrutmen politik semacam ini memang sudah menjadi resep ampuh untuk membungkam para vokalis. Sumbangan pemikirannya akan terbatas pada lingkungan tertentu dan mungkin juga sengaja dipakai untuk mendongkrak citra, guna mencerminkan kesungguhan presiden memberantas korupsi. Sayangnya pemberantasan korupsi tidak tergantung pada citra tetapi pada aksi nyata. Sudah banyak lembaga pemerintah yang tersedia untuk tugas itu. Lalu sekarang apa yang mungkin dilakukan seorang Denny Indrayana sebagai stah ahli termuda? Lingkaran kekuasaan selalu akan menggiurkan, tetapi taruhannya ada. Jangan-jangan Denny menjadi salah satu ‘don’ di “Negeri Para Mafioso”.-
Iklan