Judul buku : Meuwissen tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori
Hukum dan Filsafat Hukum

Penerjemah : Prof.Dr.B.Arief Sidharta,S.H
Penerbit : PT Refika Aditama, Bandung
Tahun : 2007
Tebal : 112 hal

Buku ini adalah terjemahan beberapa bab dari bukunya van Apeeldoorn, Inleiding tot de studie van Nederlanse Recht, yang sudah dikenal para mahasiswa hukum kita dengan judul Pengantar Ilmu Hukum. Buku van Apeldoorn di Belanda sendiri sudah di revisi beberapa kali, malangnya terjemahan yang ada selama ini masih versi sebelum Perang Dunia II. Prof.Meuwissen (Groningen) dapat bagian menggarap bab-bab mengenai Teori Hukum, Imu Hukum dan Filsafat Hukum dalam buku van Apeldoorn (1985). Buku ini adalah terjemahan ketiga bab tersebut.

Inti dari pemikiran Meuwissen memusat pada ‘pengembanan hukum’ (diterjemahkan dari ‘rechstbeoefening’.). Ada 2 jenis pengembanan hukum, praktis dan teoritis. Pengembanan praktis berwujud pada pembentukan hukum, penemuan hukum dan bantuan hukum. Disini pekerjaan praktisi hukum sehari-hari. Sedang pengembanan teoritis adalah Ilmu-ilmu hukum, Teori (ilmu) hukum dan Filsafat Hukum. Ketiganya punya obyek berbeda. Obyek Ilmu hukum ialah tata hukum baik nasional maupun internasional. Teori hukum obyeknya tata hukum positif sebagai sistem, sedang filsafat hukum obyeknya hukum sebagai adanya demikian dan juga menjawab pertanyaan apa landasan berlakunya hukum dan landasan penilaian keadilan.

Yang menarik dicatat dari  Meuwissen adalah dia menolak teori Gustav Radbruch yang menjabarkan cita hukum (rechtsidee) menjadi 3 : kepastian, kegunaan dan keadilan. Bagi Radbruch ketiga aspek ini sifatnya relatif, bisa berubah-ubah.  Satu waktu bisa menonjolkan keadilan dan mendesak kegunaan dan kepastian hukum ke wilayah tepi. Di waktu lain bisa ditonjolkan kepastian atau kemanfaatan. Hubungan yang sifatnya relatif dan berubah-ubah ini tidak memuaskan. Meuwissen memilih kebebasan sebagai landasan dan cita hukum. Kebebasan yang dimaksud bukan kesewenangan, karena kebebasan tidak berkaitan dengan apa yang kita inginkan.  Tetapi berkenaan dengan hal menginginkan apa yang kita ingini.  Dengan kebebasan kita dapat menghubungkan kepastian, keadilan, persamaan dsb ketimbang mengikuti Radbruch.(hal 20-21)

Tradisi hukum kita adalah berasal dari tradisi Civil Law – Kontinental, Prancis dan Belanda. Diatas landasan civil law sekarang berkembang pesat pemikiran dari dunia Common Law yang berbahasa Inggris. Orang semakin jauh dari pemikiran yang dalam dari Eropa yang mulai digantikan filsafat pragmatisme, empirisme, Amerika. Buku terjemahan dari tulisan Prof.Meuwissen ini mencoba mengisi kekosongan yang sangat terasa dalam kepustakaan hukum kita dewasa ini. Usaha Prof.Sidharta (Parahyangan) ini mencoba menjadi pengimbang dan karenanya pantas dihargai. Ia meneruskan tradisi pemikiran kontinental yang dikenal kokoh dan dalam, ditengah desakan ilmu-ilmu empiris, sosiologi dan antropologi.

Beberapa terjemahan kata terasa menjadi kaku, misalnya ‘logikal’, ‘teoritikal’, ‘praktikal’,’empirikal’. Kenapa tidak terjemahkan saja dengan logis, teoritis, praktis, empiris, yang sudah menjadi kata yang umum. Istilah ‘pengemban’ dipakai untuk rechtsbeoefening,memang belum begitu dikenal tapi mungkin sementara ini merupakan kata yang paling pas.
Iklan