Dalam kejahatan valuta asing (valas) setidaknya dikenal 5 modus kejahatan yang terjadi yaitu dengan cara :

1. Jual beli valas

2. Bank membeli valas dengan fasilitas KLBI

3. Transaksi fiktip valas

4. Transaksi margin trading

5. Konversi langsung deposito dolar dan rupiah antar nasabah


1. JUAL BELI VALAS

Fasilitas kredit atau overdraft diberikan kepada pengurus/pemilik/pihak terkait yang digunakan untuk kegiatan jual beli valas. Disini jual beli valas dilakukan dengan :

    1. Transaksi Spot, dengan penetapan kurs yang tidak wajar (kurs jual lebih rendah dari kurs beli), membatalkan transaksi atau melakukan transaksi lawan kalau dilihat pergerakan kurs menimbulkan kerugian bagi yang bersangkutan.
    2. Transaksi Forward, transaksi berjangka diperpanjang beberapa kali dengan kurs tetap padahal mestinya berdasarkan kurs pasar. Juga dengan membatalkan transaksi atau melakukan transaksi lawan apabila pergerakan kurs menimbulkan kerugian bagi yang bersangkutan.
    3. Transaksi Swap dengan menggunakan kurs spot yang tidak wajar yang tidak sesuai dengan patokan kurs dari counterparty.
    4. Transaksi Option dengan penetapan strike price yang selalu menguntungkan pihak terkait, penetapan premi yang tidak wajar yang tidak sebanding dengan nilai transaksi, tidak melakukan pass on sehingga seluruh risiko ditanggung oleh bank.
    5. Arbitrase dan Spot

Bank melakukan transaksi jual beli valas pada hari yang sama dengan bank lain(arbitrase) dan mendapatkan margin keuntungan dari transaksi tersebut. Tetapi selanjutnya keuntungan tersebut dialihkan kepada nasabah dengan cara seolah-olah bank melakukan transaksi jual beli valuta asing (spot) dengan nasabah yang selalu menguntungkan nasabah.

2. BANK MEMBELI VALAS DENGAN FASILITAS KLBI

Setelah PVA malkukan transfer valas untuk untung bank, maka bukti transfer disampaikan kepada bank dan selanjutnya bank menandatangani aplikasi transfer untuk membayar PVA. Selanjutnya atas dasar bukti transfer dan aplikasi transfer kepada PVA tersebut, bank menerbitkan nota kliring (LLG) antar bank untuk untung bank (nota kredit)dan sekaligus nota debet untuk membayar PVA atas beban giro bank di Bank Indonesia sehingga bersaldo debet.

3. TRANSAKSI FIKTIF VALAS UNTUK MENUTUPI KERUGIAN VALAS PIHAK TERKAIT

Pengurus bank untuk kepentingan pribadi melakukan transaksi jual beli valas, apabila untung dinikmati oleh yang bersangkutan tetapi apabila rugi dibebankan kepada bank dengan melakukan rekayasa pembukuan.

4. TRANSAKSI MARGIN TRADING

Pengurus bank menyalahgunakan wewenang dengan cara yang bersangkutan secara pribadi ikut melakukan transaksi margin trading dengan menggunakan fasilitas bank, yaitu apabila rugi dibebankan kepada margin deposit bank, tetapi apabila untung dimasukkan untuk menambah margin deposit atas nama pengurus.

5. KONVERSI LANGSUNG DEPOSITO DOLAR DAN RUPIAH ANTAR NASABAH

Konversi deposito dolar ke rupiah dari seorang nasabah dibukukan langsung ke rekening giro seorang Pengurus bank. Keesokan harinya pengurus tersebut menjual valas tersebut kepada bank dengan memperoleh keuntungan. Cara pembukuan tersebut tidak lazim dalam praktek perbankan; seharusnya hasil konversi dari nasabah tersebut masuk ke rekening neraca bank dengan kurs beli. Selanjutnya apabila Pengurus akan membeli dilakukan melalui transaksi (kurs jual) dengan bank.

Iklan