Pengadilan Banding Federal Circuit di Washington Rabu (13 Agustus) mengeluarkan suatu putusan penting. Pengadilan tersebut menyetakan software developer yang sudah melepaskan programming code nya boleh menggugat atas dasar pelanggaran hak cipta kalau seseorang menyalahgunakan nya. Demikian dilaporkan Associated Press kemarin (15/8).

Putusan ini menyingkirkan wilayah yang selama ini abu-abu. Pertanyaan selama ini seberapa jauh programmer mengontrol dapat menguasai HAKI nya sejak karyanya itu dilepas secara gratis ke komunitas software “open source”. Orang boleh bebas memakai material tersebut dalam produknya, kata pengadilan banding, tetapi ia harus menuliskan pencipta kode program. Kemudian selanjutnya modifikasinya dapat dilepas ke masyarakat. Karena code tersebut sudah digratiskan maka muncul pertanyaan bagaimana kalau suatu pelanggaran ditemukan dan dia menggunakanya untuk mencari profit dari produknya tanpa mencantumkan dan mengumumkan perubahan yang dilakukan.

Dalam kasus sebelumnya seorang programmer penggemar model kereta api menggunakan program buat chip yang mengontrol keretanya. Dalam kasus ini Pengadilan Distrik San Francisco memutuskan Penggugat dapat menuntut atas dasar wanprestasi tapi bukan pelanggaran hak cipta. Pembedaan ini penting karena jauh lebih mudah proses penuntutan ganti kerugian dalam perkara hak cipta ketimbang wanprestasi.

Sedang dalam kasus barusan yang disebut diatas, Robert Jacobsen seorang pengelola grup software open source yang menciptakan suatu aplikasi memohon pengadilan menghukum KAM Industries yang membuat produk saingan. Pengadilan distrik menolak Jacobsen tapi kemudian pengadilan banding membatalkan dan meminta perkaranya diperiksa kembali oleh pengadilan distrik. Kata Pengadilan banding Federal itu, “Secara tradisional, pemegang hak cipta menjual karyanya dengan imbalan uang, tetapi tiadanya unsure uang dalam peralihan lisensi open source tidak bisa dianggap tidak ada pertimbangan ekonomi.”

Iklan