Nyonya Ay Ing konon menyewa tukang rias dari SuperSalon agar penampilan bagus di ruang sidang Pengadilan Anti Korupsi. Tukang salon mendapat dispensasi agar bebas mengunjungi kliennya itu di ruang tahanan. Kulit putih bening diusap dulu dengan lotion buatan Prancis. Rambut digelung, alis mata diangkat dengan pensil keatas dan lalu melengkung di ujung kanan kiri. Pakaian blazer warna terang dipadu rok sedikit dibawah lutut. Kaki beralaskan sepatu hak tinggi biar postur tampak sedikit semampai. Dan Nyonya pesolek kita didakwa karena menyogok jaksa Rp 6 milyar. Kita tidak perlu kuatir sang hakim akan tergoda dengan penampilan terdakwa ini.
Lain lagi Nyonya ..(tepatnya Mbok) Ratmini asal Pekalongan didakwa Pasal pencurian handphone. Si Mbok (37 th) hadir di Pengadilan dengan rok hitam dan baju putih. Kostum yang disuruh sama sipir LP. Kostum hitam putih baru dibeli sama suami…entah uang dari mana.
Adilkah ini ? Koruptor yang perbuatannya berdampak sangat luas malah mendapat privilese sebagai tahanan atau terpidana. Mbok Ratmini, Pak Tawio (dua goni pupuk), Bang Sarkam (copet) terdakwa kasus teri diwajibkan kostum hitam putih (dan peci). Kalau begitu diwajibkan saja para tersangka, terdakwa korupsi pakai pakaian ‘resmi’. Dan kostum ini sebaiknya juga memiliki fungsi efek jera. Jadi tidak hitam putih dan peci biasa. Harus kostum yang dapat mempermalukan ybs di muka sidang. Sekarang kita setuju saja dulu ini.

Nah karena ini akan menjadi resmi maka harus dibuatkan dulu pelelangan umum desain kostum koruptor oleh Komite PembasmiKorupsi (KPK), sesuai Keppres 80 tahun 2003. Atau biar lebih cepat karena ada unsur keadaan mendesak boleh lah KPK membuat mengundang beberapa desainer kita lalu menunjuk salah satu. Tender Pemilihan langsung namanya, sesuai Keppres 80. Dari pemilihan desain pemenang barulah nanti KPK membuat tender pengadaan pakaian terdakwa korupsi. Kejaksaan tentu tidak dilarang membuka tender sejenis.

Iklan