Politik


     Menyimak rapat dengar pendapat (RDP) Komisi III DPR dengan Kapolri beserta jajarannya terasa sangat cair. Bak set-back setelah rakyat mendengar rekaman pembicaraan Anggodo yang terkait dengan upaya rekayasa BAP yang berujung penahanan Bibit-Chandra.  Komisi III yang diharapkan mengajukan pertanyaan tajam sekarang malah memberi apresiasi dan memuji-muji Kapolri. Berbeda dengan RDP dengan KPK yang tertutup, rapat ini dinyatakan terbuka.  Karena itu Rapat yang dinyatakan terbuka untuk umum ini  justru menimbulkan syak, jangan-jangan forum RDP ini sengaja digelar Komisi III agar Kapolri dan jajarannya dapat membela diri serta diliput secara luas.  Kapolri bisa membersihkan citra yang tercoreng dimata masyarakat.  Masyarakat wajar bertanya, apakah ini bukan teater dan dramaturgi. 

     Kapolri memberi penjelasan bahwa seluruh proses penyidikan dan penahanan atas Bibit-Chandra sudah sesuai prosedur.  Bukti-bukti ada lengkap, katanya. Semua dijelaskan dalam bahasa teknis kepolisian ‘idik, ilik’, BB, S-print, BAP, P-19, P-21, pasal-pasal KUHAP dan juncto-junctis KUHP, lantas semuanya telah beres sesuai hukum.  Segala hal yang kelihatan tidak beres dalam rekaman KPK yang diperdengarkan dalam Sidang Mahkamah Konstitusi sekarang menjadi kelihatan beres dan sesuai aturan.  Logika awam  sudah gamblang mengenali ketidak beresan instansi kepolisian sejak dulu.  Publik tidak paham bahasa hukum yang njelimet, apalagi istilah-istilah kepolisian yang gemar singkatan dan akronim, seperti idik, ilik, P-21, atau P-201 dan puspenkumpoldokpalpelpol. Rakyat tidak kenal puspenkum tapi puskesmas.  Pula, jangan-jangan P-19 atau P-21  dalam pemahaman rakyat awam semacam Patas AC. (Bu Zaki tetangga pernah menanyakan  istri saya, ada apa sih yang terjadi, kok teve semua siaran langsung pengadilan, mutar rekaman apa ya..)

     Anggota Komisi III tidak ada gregetnya, malah ada anggota FPKS meminta Susno Duaji bersumpah dan tentu saja Susno dengan mudah bersumpah tidak pernah terima uang Rp 10 M terkait Century-gate.  Susno dengan air mata berlinang mengutarakan isi hatinya karena merasa keluarganya tertekan oleh tuduhan kepadanya.  Susno ingin menunjukkan sisi kemanusiaan yang menimpanya.  Tidak salah Susno menangis, bahkan sekiranyapun ia meraung-raung.  Cuma harus disadari juga bahwa bukan hanya Susno yang punya keluarga, anak, istri, sepupu, misan, semenda, paman, engkong, eyang dst.  Bibit dan Chandra juga punya keluarga, anak istri, sedulur, paman, engkong, atau  buyut.  Selain itu, publik sudah paham bahwa sumpah sudah lama kehilangan makna dan keangkerannya di negeri ini.  Kalau memang kita memberi makna religius pada sumpah, semua polisi, jaksa, hakim, advokat, PNS, DPR, pejabat, saksi telah bersumpah sebelum menjabat dan memberi keterangan. Dalam sumpah mereka dikatakan tidak menggunakan jabatan langsung atau tidak langsung, melakukan tugas sesuai perundangan, memberi keterangan yang sebenarnya dll.  Tetapi toh banyak penyimpangan, kebohongan, korupsi, penyelewengan dsb. Anggota  DPR, bupati, gubernur ditangkapi dan dipenjara karena korupsi dan semuanya telah bersumpah sebelum menjabat.

Sebenarnya tak perlu heran kalau melihat penguasaan kursi parlemen adalah  parpol koalisi pendukung pemerintah. Dan karena Polri adalah bagian dari pemerintah wajar terasa suasa kekeluargaannya.  Sebagian penanya terasa lucu.  Ada yang mencoba menunjukkan pengetahuan  hukumnya dengan bahasa mewah, ada yang malah tak mampu merumuskan pertanyaannya sendiri dalam bahasa yang jelas, bahkan ada yang nanya sekedar nanya saja biar kelihatan disorot Teve, live!  Tidak ada mempersoalkan apa motivasi Antasari memberi testimoni, dan pula ia sedang dalam tahanan.  Apakah testimoni demikian dibuat secara bebas tanpa tekanan?  Mengapa sulit  mencari Pasal menahan Anggodo sedang untuk menahan Bibit-Chandra bisa.?  Dimana Ari Muladi, komunikasi penyidik Parman dengan Anggodo apa artinya itu, dsb dst? Anehnya anggota FPDIP, Hanura, Gerindra yang diharapkan memberi pertanyaan dan kecaman tajam, malah seperti motor ngadat karburatornya kotor.  Tampak bahasanya seperti menekan, tapi substansi pertanyaannya kosong melompong.  Lalu merekapun mengapresiasi Polri dan mengungkapkan kecintaan pada institusi Polri.

Lantas kalau rakyat sudah kehilangan harapan sama DPR, kemana mereka berharap.  Kita tidak mau adanya parlemen jalanan.  Terlalu riskan. DPR harus berobah sikap terutama partai yang merasa bukan koalisi pemerintah. Meski mereka tidak mayoritas kalau mereka mampu mengartikulasikan keinginan rakyat dalam bahasa gamblang niscaya mampu membongkar borok-borok mafioso dan makelar perkara yang sudah kronis dalam penegakan hukum.

Rekaman dari tanggal 23 Juli 2009 hingga 10 Agustus 2009 diduga merupakan percakapan antara Anggodo Widjojo dengan Wisnu Subroto (mantan Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen) serta beberapa orang lainnya. Disebut juga  nama Abdul Hakim Ritonga  (Wakil Jaksa Agung) dan Susno Duaji (Kabareskrim). Disini tampak rencana menyeret pimpinan KPK dalam perkara suap dari bos PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo.

Wisnu ke Anggodo (23 juli 2009)

“Bagaimana perkembangannya,”
“Ya, masih tetap nambahin BAP, ini saya masih di Mabes”

“Pokoknya berkasnya ini kelihatannya dimasukkan ke tempatnya R (nama
salah satu pucuk pimpinan kejaksaan), minggu ini, terus balik ke sini, terus action”
“RI-I belum”
“Udah-udah, aku masih mencocokkan tanggal”

Anggoro ke Anggodo (24 Juli 2009)

Yo pokoke saiki Berita Acarane kene dikompliti
Wes gandeng karo Ritonga kok dek’e
Janji ambek Ritonga, final gelar iku sama kejaksaan lagi, trakhir Senen”
“…sambil ngenteni surate RI-1 thok nek?”
lha kon takok’o Truno, tho”"yo mengko bengi, ngko bengi dek’e

Hadi Atmoko ke Anggodo (27 Juli 2009)
“..dan ini kronologinya saya sudah di Bang Farman semua,”
“Sebetulnya ada satu saksi lagi si Edi Sumarsono Pak, yang Antasari
itu Pak”Sama pembuktian lagi waktu Ari kesana, ada pertemuan rapat
dengan KPK Pak”
“Ada pertemuan di nya di ruang rapat Chandra”

Anggodo ke Kosasih (28 Juli 2009)

“Kos, itu kronologis jangan Lu kasih dial oh Kos”
“Jangan dikasihkan soalnya Edi sudah berseberangan”
“Cuman Lu harus ngomong sama dia:’terpaksa Lu harus jadi saksi’,
karena Chandra Lu yang perintah, kalao nggak, nggak bisa nggandeng”

Anggodo ke seorang wanita (28 Juli 2009)
“Besok kon tak ente…, ngomong ke Ritonga, Edi Sumarsono itu bajingan
bener, sebenarnya dia mengingkari semua”
“besok penting ngomong. Edi ngingkari Pak, padahal Antasari bawa Chandra

Anggodo ke Parman (penyidik) (29 Juli 2009)
“Kelihatannya kronologis saya yang benar”
“Iya sudah benar kok, saya lihat, di surat lalulintas. Saya sudah
ngecek ke Imigrasi, sudah benar kok”

Anggodo ke Wisnu (29 Juli 2009)
“Terus gimana Pak, mengenai Edi gimana Pak”
“Edi udah tak omongken Irwan apa. Ini bukan sono yang salah, kita-kita
ini yang jadi salah”
“Iya, padahal ia saksi kunci Chandra”
“Maksud saya Pak, dia kenalnya dari Bapak dan Pak Wisnu, gak apa-apa kan Pak”
“Nggak apa-apa, kalau dari Wisnu nggak apa-apalah”
“Kalau kita ngikutin, kan berarti saya ngaku Irwan kan. Cuma kalau dia
nutupin dia yang perintah…perintahnya Antasari suruh ngaku ke Chandra
itu ga ngaku. Terus siapa yang ngaku”
“ya you sama ARI”
“Nggak bisa dong Pak, wong nggak ada konteksnya dengan Chandra”
“Nggak,’saya dengar dari Edi”
“Iya dari Edi, emang perintahnya dia Pak. Lha Edinya nggak mau ngaku,
gitu Pak,’dia nggak kenal Chandra, saya ndak nyuruh ngasihin duit,’
gimana bos?”
“Ya nggak apa-apa”

Anggodo ke Wisnu (30 Juli 2009)

“Pak tadi jadi ketemu?”
“Udah, akhirnya Kosasih yang tau persis teknis di sana. Suruh
dikompromikan disana, Kosasih juga sudah ketemu Pak Susno, dia juga
ketemu Pak Susno lagi si Edi. Yang penting kalo dia tidak mengaku
susah kita.”
“Yang saya penting, dia menyatakan waktu itu supaya membayar Chandra
atas perintah Antasari”
“Nah itu”
“Wong waktu di malam si itu dipeluk anu tak nanya, kok situ bisa
ngomong. Si Ari dipeluk karena teriak-teriak, dipeluk sama Chandra itu
kejadian”
“Bohong, nggak ada kejadian, kamuflase saja.”
“Nggak ada memang. Jadi dia cuma dikasih tau disuruh Ari gitu. Dia
curiga duite dimakan Ari.”
“Bukan sial Ari-nya Pak, dia cerita pada waktu ke KPK dia yang minta
Ari, kalau ditanya saya bilang Edi ada disitu, diwalik sama-sama doa,
Ari yang suruh ngomong dia ngomong dia ada. Kalau itu saya ga jadi
masalah pak, itu saya suruh…”
“Pokoknya yang kunci-kuncinya itu saya sudah ngomong sama Kosasih,
kalo tidak ada lagi…nyampe…ya berarti ya enggak bisa kasus ini gitu”
“Yang penting buat saya Pak si Ari ini, dia ngurusi Ade Rahardja
segala. Ujung-ujungnya dia dapet perintah nyerahkan ke Chandra itu
siapa Pak? Kan nggak nyambung pak”
“Bukan Pak, dia memerintahkan nyerahken ke Chandra yang Bapak juga
tahu kan, karena kalo ga ada yang merintah Chandra Pak, nggak nyambung
uang itu lho’
“Memang keseluruhan tetap keterangan itu, kalau edi nggak ngaku ya
biarin yang penting Ari sama Anggodo kan cerita itu”
“kan saksinya kurang satu”
“Saksinya akan sudah 2, Ari sama Anggodo”
“Saya bukan saksi, saya kan penyandang dana kan”
“kenapa dana itu dikeluarkan, karena saya disuruh si Edi kan, sama
saja kan, ha ha ha…”
“suruh dia ngaku lah Pak, kalao temenan kaya gini ya percuma pak punya temen.”
Susno dari awal berangkat sama saya ke Singapura. Itu dia sudah tahu
Toni itu saya, sudah ngerti Pak. Yang penting dia nggak usah
masalahin. Itu kan urusan penyidik”Yang penting dia ngakuin itu bahwa
dia yang merintahkan untuk nyogok Chandra, itu aja”
“Sekarang begini, dia perintahkan kan udah Ari denger, you denger kan.
Sudah selesai…”
“Tapi, kalo dia nggak Bantu kita Pak, terjerumus. Dia dibenci sama Susno
“Biarin aja, tapi nyatanya dia ngomong dipanggil Susno”

Anggodo dengan seorang wanita (6 Agustus 2009)

iyo tapi ditakono tanda tangani teke sopo, iya toh gak iso jawab.
Modele bajingan kabeh, Yang. Chandra iku yo, wis blesno ae Yang, ojo

ragu-ragu…”

Anggodo dengan …(7 Agustus 2009)

“menurut bosnya Trunojoyo, kalau bisa besok sudah keluar”
“Male bilang tidak bagus, karena pemberitaannya hari minggu, orang
sedang libur. Bagusnya Senin pagi, langsung main”
Truno minta TV dikontak hari ini, supaya besok counternya dari Anggoro”

Anggodo dengan …(8 Agustus 2009)

“Nggak usah ngomong sama penyidik. Cuma abang saja tahu bahwa BAP nya
Ari tuh seperti itu. Jadi dalam posisi dia BAP, masih sesuai apa yang
dia anu. Jangan sampai dia berpikir, kita bohong”
“Siap Bang”
“Sama harus dikaitkan ini, seperti sindikat Edi, Ari sama KPK satu
sindikat mau memeras kita, ya Bang”
“iya”
“Intinya si Ari sudah di BAP seperti kronologis. Kenapa kok kita
laporkan Ari itu. Kenapa sudah laporan begini kok dia melarikan diri.
Gitu loh. Dan si Edi itu di BAP itu nggak ngaku. Kit anggak usah
ngomong. Pokoknya si edy nggak tahu kita.
“Bang, nanti maksudnya di BAP kita nantinya, inti bahwa pengakuan itu Bang”
“iya”
“sekarang jangan dibuka dulu. Maksudnya status si Ari itu, kita merasa
Ari sama Edy dan ini tuh, ini kita diperas KPK sudah kita bayar.
Kenapa jadi masalah begini. Gitu loh Bos”
“Iya”
“menurut pengakuan Ari, dia sudah membayar seluruh dana teresbut
kepada orang-orang KPK, nggak tahu siapa”
“Betul”

Alex dengan Anggodo (10 Agustus 2009)

“Secara keseluruhan apik. Anggoro nggak lari”
Kenceng dia ngomonge”
“Kenceng. Tak rekam banter mau”
“Y owes. Terus poin-poinnya tersasar, kan
?”
“Sudah”
“Tidak lari. Ciamik dee njelasnoe
“Ini ada suatu rekayasa, nampak dari pemanggilan jadi saksi terus
tersangka. Tenggat waktu 9 bulan. Sudah kondusif. Moro-moro karena ada
testimony, muncul pemanggilan sebagai tersangka. Secara keseluruhan
oke.”
“Mengenai cekal, salah sasaran”
“Ya dalam kasus Yusuf Faisal, kok dicekal Anggoro. Itu bagaimana.
Penyitaan dan penggeledahan juga salah sasaran. Dalam kasus Yusuf
Faisal, kok yang digeledah Masaro. Pokoknya intinya sudah masuk
semua.”

Alex dengan Anggodo dan Robert (10 Agustus 2009)

“Iya memang dicuplikan. Nggak banyak, tapi intinya kita berkelit,
kalau ini bukan penyuapan. Karena di awal itu, beritanya dari Antasari
dulu, testimoni itu. Jadi dia cuplik dari Antasari, terus baru
disambung ke kita, jadi dijelaskan sama Bonaran, kalo itu bukan
penyuapan. Dan permasalahannya, kedatangan Antasari menemui Anggoro
itu juga membawa konsekwensi Antasari bisa dipermasalahkan”
“Ngomong gimana? Pengacara dari Anggoro press rilis hari ini.”

(sumber http://sumbawanews.com)

Technorati Tags: , , ,

Nama Marsillam Simanjuntak  tiba-tiba menyodok bursa calon Plt Pimpinan KPK, setelah TIM dibentuk SBY.  Nama ini agaknya sengaja dilempar dulu ke pers oleh Adnan Buyung salah satu anggota Tim penyaring calon. Bukan pertama ini nama Marsillam muncul untuk memimpin lembaga yang sempat didambakan untuk memberantas virus korupsi yang meranggas negeri ini.  Pernah mencalonkan diri  tahun 2003 dan mendapat ranking tertinggi dalam penyaringan sebelum ke DPR, tapi akhirnya tidak lolos entah kenapa. Terpilih Taufiqurahman Ruki dkk.

Kita tahu kemudian setelah Ruki, komisi ini dikomandani oleh Antasari Azhar yang sekarang malah meringkuk dalam tahanan karena tuduhan pembunuhan berencana.  Lalu, anggota komisi yang lain, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto diperiksa sebagai tersangka oleh Polri dalam tuduhan kasus yang belum jelas dan berubah-ubah.  Kadang polisi mengatakan kedua orang ini menyalahgunakan wewenang menyadap, lain waktu katanya karena mencabut pencekalan bos Mulia Group Joko Tjandra.

Pembahasan RUU KPK yang mulur mungkret, gagasan mengurangi wewenang penuntutan,  pengurangan jumlah hakim ad-hock pengadilan Tipikor dan dakwaan dan sangkaan pidana kepada tiga pimpinan KPK memperberat dugaan ada tangan-tangan kekuasaan tersembunyi yang mempreteli KPK.   Ditambah lagi Kabareskrim Susno Duaji yang didesas-desuskan kongkalikong untuk mencairkan dana nasabah tertentu Bank Century, dan berusaha melumpuhkan KPK, sebelum dipanggil.

Apakah masyarakat masih bisa optimis untuk pemberantasan korupsi dalam kondisi semacam ini?  Marsillam konon disandingkan dengan 2 calon lain Amin Sunaryadi dan Arief Surowidjojo. (Teten Masduki dari ICW yang juga disebut-sebut agaknya tidak bersedia masuk bursa, tidak tahu entah kenapa.)   Marsillam yang paling mungkin dibanding 2 lainnya itu. Kenapa ? Amin, walaupun pernah di KPK dan konon bersih tapi dibanding Marsillam, pengalaman dan nyali nya beda.  Marsillam, pionir reformasi sudah malang melintang dengan gerakan demokrasi bersama Gus Dur pada zaman Soeharto.  Arief, saya tidak tahu kok bisa nama ini masuk bursa. Arief tidak ada track record anti korupsi, malah dikalangan pengacara dikenal sebagai corporate lawyer (bukan bidang pidana) yang melayani kebutuhan bisnis korporat-korporat besar. Apakah nanti tidak timbul masalah benturan kepentingan?   Atau, jangan-jangan Arief dan Amin sengaja disandingkan dengan Marsillam yang bukan pantarannya, maksudnya supaya jelas arahnya ke Marsillam.

Kalaupun Marsillam reformis bernyali naga yang pernah dituding merancang pembubaran Golkar ini terpilih menjadi Ketua, lalu apa yang bisa dilakukan dengan Century-gate? (bahkan ada yang menghubungkan Century dengan biaya kampanye pilpres)
Dan yang paling repot, bagaimana kalau Chandra dan Bibit dalam proses peradilannya ternyata tidak bersalah dan dilepas dari tuntutan atau dibebaskan?  Ini semua jadi tanda tanya.  Untuk saya dan untuk anda..

Reblog this post [with Zemanta]

Technorati Tags: , ,

Kompas memuat wawancara menarik dengan Nono Anwar Makarim mengenai masalah Israel Palestina.(kompas.com).

Mencari Titik Temu Israel-Palestina

Nono Anwar Makarim (69) adalah seorang ahli hukum. Namun, spektrum perhatiannya melintasi berbagai disiplin ilmu. Tidak heran, tulisan-tulisannya di media massa amat beragam: dari masalah hukum, politik, hubungan internasional, ekonomi, sosial-budaya, hingga seni.

Ketika kami temui di rumah kerjanya yang asri di Pondok Labu, Jakarta Selatan, Rabu (14/1) siang, Nono sedang merampungkan tulisan pengantar untuk katalog pameran pelukis abstrak, Hanafi. Sebelumnya, ketika Israel sedang gencar-gencarnya membombardir Gaza, dia menulis kolom menarik tentang peristiwa tragis itu di majalah Tempo.

Mengapa perhatian Nono meluas hingga soal konflik Palestina-Israel? Sebagai ahli hukum, mantan aktivis mahasiswa tahun 1966 itu terbiasa memerhatikan semua detail. Detail bisa menguak kebenaran, bahkan mengonstruksi keseluruhan.

”Kalau detailnya kurang atau sebagian dihapus, akan lain ceritanya. Detail itu absolut dan penting,” ujar laki-laki yang pernah jadi fellow pada Center for International Affairs di Harvard University, Amerika, itu.

Disiplin ilmu hukum membiasakan Nono memilah-milah mana detail yang penting, sangat penting, dan sepele. Metode inilah dia gunakan dalam melihat peristiwa politik seperti konflik Palestina-Israel. Pengalamannya melihat konflik itu dari dekat saat mengunjungi Beirut tahun 2007 silam memberinya perspektif lebih realistis.

Sebagaimana kita ikuti, Israel menyerang permukiman warga di Jalur Gaza sejak akhir Desember 2008. Memasuki hari ke-22 sekarang ini, korban warga Gaza mencapai 1.000 orang lebih. Serangan begitu membabi buta sampai menggempur Markas Badan Bantuan Sosial dan Pekerja PBB (UNRWA) di Gaza. Diduga, Israel menggunakan senjata kimia fosfor putih yang dilarang saat perang.

Bagaimanakah kemungkinan mengakhiri konflik yang berkecamuk sejak tahun 1948 itu? Kita dengarkan saja pandangan Nono.

Apa detail penting dalam konflik Israel-Palestina?

Kita tahu, di Israel akan ada pemilu dan sekarang elitenya sedang bersaing memperebutkan hati rakyat. Pergantian kepemimpinan di AS membuat kebijakan negara itu di Timur Tengah menjadi tidak pasti.

Di Palestina, ada konflik Hamas-Fatah. Fatah korup. Hamas didukung Hezbollah, Iran, dan Irak. Negara-negara Arab punya kepentingan subyektif sendiri. Polling sebelum pengeboman oleh Israel, 74 persen warga Gaza ingin gencatan senjata diperpanjang meski itu cacat karena Gaza tetap diisolasi. Hamas mau terima opsi dua negara terpisah (dengan Israel) dalam situasi gencatan senjata jangka panjang.

Mana detail yang paling penting?

Ada keinginan warga Gaza untuk memperpanjang gencatan senjata dan kesediaan Hamas menerima opsi dua negara. Ini titik terang luar biasa yang bisa mengarah pada perdamaian.

Gencatan akan membiasakan orang-orang dalam situasi damai. Ekonomi akan berkembang, dua negara (Palestina dan Israel) tidak ada apa-apa. Kalau keadaan bagus, kekerasan pandangan akan melunak. Saat seperti itu, negosiator perdamaian bisa mulai bekerja. Namun, setelah serangan Israel ke Gaza sekarang, semuanya berantakan.

Tapi rakyat Israel justru mendukung perang kali ini?

Mereka khawatir dengan kebijakan AS di Timur Tengah di bawah Presiden Barack Obama yang belum pasti.

Sejauh mana perubahan kebijakan AS itu?

Perubahan di AS itu tidak mungkin dramatis. Suatu organisasi yang kompleks dan besar (seperti AS) tidak akan mampu bergerak secara radikal. Namun, ini tetap jadi pertanyaan buat rakyat Israel.

Perang agama

Di Indonesia, sebagian orang menganggap perang Israel-Palestina sebagai perang agama. Nono sendiri berpandangan, ini bukan perang agama, tetapi perang politik berlatar etnis dengan sejarah panjang. ”Namun, kedua pihak mengesankan, ini perang agama,” katanya.

Israel ingin menunjukkan, orang Islam sulit diajak ngomong. Bagi orang Palestina, jika perang ini dianggap perang agama, lebih mudah memobilisasi dukungan dari negara mayoritas Muslim.

Menurut Nono, setidaknya ada beberapa isu mendorong perang Palestina-Israel kali ini: persaingan politik di antara elite politik Israel, persaingan Hamas-Fatah di Palestina, dan kemungkinan pergeseran kebijakan politik luar negeri AS.

Sejauh mana politik dalam negeri Israel memicu perang kali ini?

Sebentar lagi ada pemilu di Israel. Ada tiga kekuatan yang berebut kekuasaan, yakni koalisi Kadima, Partai Likud, dan Partai Buruh. Kadima menggunakan isu Palestina untuk mendongkrak popularitasnya yang sedang turun.

(Rakyat Israel) yang mendukung perang kali ini luar biasa, hampir 100 persen, tak pandang konservatif atau moderat. Bahkan, suara-suara yang biasanya antiperang, sekarang condong ke perang.

Mengapa bisa begitu?

Ya, (rakyat Israel) seperti orang yang jengkel diganggu terus (roket Hamas), lalu nimpuk. Perang sekarang begitu keras, tanpa perikemanusiaan, karena popularitas Israel melorot ketika berperang dengan Hezbollah Lebanon tahun 2007.

Mengapa dunia diam saja?

Alasannya apa untuk intervensi? Perang mahal. Seluruh negara punya problem sendiri yang harus diurus. Siapa peduli dengan Palestina? Sementara itu, Eropa merasa punya salah kepada orang Yahudi karena kasus holocaust (peristiwa pembantaian sekitar enam juta orang Yahudi oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II).

Perdamaian

Seberapa pun ruwetnya konflik Palestina-Israel, Nono yakin konflik itu bisa diselesaikan. ”Di dunia ini banyak ahli hukum ulung dan punya pengalaman dalam proses perdamaian. Namun, mereka tetap butuh situasi yang kondusif untuk memulai negosiasi dan dukungan Barat.”

Menurut dia, ada tiga langkah yang perlu diambil untuk memulai proses perdamaian Palestina-Israel. Pertama, harus ada pasukan internasional yang mengawasi jalannya gencatan senjata dan diberi otoritas untuk mengadili pelanggaran.

Kedua, tanah-tanah yang diambil Israel dari Palestina harus dikembalikan. Ketiga, dunia internasional perlu memberi bantuan pendidikan dan kesehatan.

Siapa yang ambil peran penting dalam proses perdamaian?

AS dan Eropa. Mereka negara kaya, punya pengalaman perang dan mengawal proses perundingan. Jika mereka tidak serius mendorong penyelesaian damai, maka konflik jalan terus dan selamanya yang kuat (Israel) akan menindas yang lemah.

Mungkinkah AS memikirkan tiga langkah itu?

Saya tidak berani meramal AS. Kalau Obama memang jujur, seharusnya dia melakukan ini. Suara yang muncul sekarang menafikan korban yang besar di Palestina.

Cukupkah kebijakan luar negeri Indonesia di Timur Tengah sekarang?

Saya puas dengan kebijakan pemerintah sekarang. Menyatakan keprihatinan dan mengutuk karena Israel tak patuhi resolusi. Itu sudah baik. Keadaan kita ini payah… ya ampun! Kita tak kuat. Kita terlalu banyak problem dalam negeri. Paling dekat, Pemilu 2009.

Hikmah apa yang bisa dipetik dari konflik Palestina-Israel?

Sukses yang bisa dicapai ekstremitas itu terbatas. Suatu ketika, setelah saudara kita, ipar kita, kakak, adik tewas dalam peperangan, kita harus berpikir tentang kehidupan anak, cucu kita. Pikiran-pikiran itu akan membawa kita pada sikap yang lebih masuk akal dalam mengajukan tuntutan. Rahasia dari semua kehidupan adalah kompromi. Kita juga harus percaya pada proses, tidak semuanya sekaligus.

Halaman Berikutnya »