Januari 2009


Karena obat Bextra, Pfizer, Inc, raksasa farmasi dunia diperintahkan Pemerintah Federal A.S untuk bayar USD 2.3 milyar. Tadinya obat ini , dimaksudkan untuk menghilangkan simptom osteoartritis dan arthritis rheumatoid tetapi kemudian pada tahun 2005 ditarik dari peredaran karena menimbulkan masalah bagi jantung pemakainya. Di Kentucky pun juga Jaksa sudah menuntut Pfizer, Inc karena Bextra disebut melakukan pelanggaran karena ber promosi padahal tak punya izin. Kalau pengadilan federal menyetujui maka jumlah 2.3 milyar akan menjadi jumlah terbesar yang pernah dibayarkan Pfizer.Inc. untuk kesalahannya. Beberapa minggu sebelumnya Eli Lilly & Co produsen obat antipsikotik Zyprexa diperintahkan membayar USD 1.42 milyar di Pengadilan Pennsylvania.

Kompas memuat wawancara menarik dengan Nono Anwar Makarim mengenai masalah Israel Palestina.(kompas.com).

Mencari Titik Temu Israel-Palestina

Nono Anwar Makarim (69) adalah seorang ahli hukum. Namun, spektrum perhatiannya melintasi berbagai disiplin ilmu. Tidak heran, tulisan-tulisannya di media massa amat beragam: dari masalah hukum, politik, hubungan internasional, ekonomi, sosial-budaya, hingga seni.

Ketika kami temui di rumah kerjanya yang asri di Pondok Labu, Jakarta Selatan, Rabu (14/1) siang, Nono sedang merampungkan tulisan pengantar untuk katalog pameran pelukis abstrak, Hanafi. Sebelumnya, ketika Israel sedang gencar-gencarnya membombardir Gaza, dia menulis kolom menarik tentang peristiwa tragis itu di majalah Tempo.

Mengapa perhatian Nono meluas hingga soal konflik Palestina-Israel? Sebagai ahli hukum, mantan aktivis mahasiswa tahun 1966 itu terbiasa memerhatikan semua detail. Detail bisa menguak kebenaran, bahkan mengonstruksi keseluruhan.

”Kalau detailnya kurang atau sebagian dihapus, akan lain ceritanya. Detail itu absolut dan penting,” ujar laki-laki yang pernah jadi fellow pada Center for International Affairs di Harvard University, Amerika, itu.

Disiplin ilmu hukum membiasakan Nono memilah-milah mana detail yang penting, sangat penting, dan sepele. Metode inilah dia gunakan dalam melihat peristiwa politik seperti konflik Palestina-Israel. Pengalamannya melihat konflik itu dari dekat saat mengunjungi Beirut tahun 2007 silam memberinya perspektif lebih realistis.

Sebagaimana kita ikuti, Israel menyerang permukiman warga di Jalur Gaza sejak akhir Desember 2008. Memasuki hari ke-22 sekarang ini, korban warga Gaza mencapai 1.000 orang lebih. Serangan begitu membabi buta sampai menggempur Markas Badan Bantuan Sosial dan Pekerja PBB (UNRWA) di Gaza. Diduga, Israel menggunakan senjata kimia fosfor putih yang dilarang saat perang.

Bagaimanakah kemungkinan mengakhiri konflik yang berkecamuk sejak tahun 1948 itu? Kita dengarkan saja pandangan Nono.

Apa detail penting dalam konflik Israel-Palestina?

Kita tahu, di Israel akan ada pemilu dan sekarang elitenya sedang bersaing memperebutkan hati rakyat. Pergantian kepemimpinan di AS membuat kebijakan negara itu di Timur Tengah menjadi tidak pasti.

Di Palestina, ada konflik Hamas-Fatah. Fatah korup. Hamas didukung Hezbollah, Iran, dan Irak. Negara-negara Arab punya kepentingan subyektif sendiri. Polling sebelum pengeboman oleh Israel, 74 persen warga Gaza ingin gencatan senjata diperpanjang meski itu cacat karena Gaza tetap diisolasi. Hamas mau terima opsi dua negara terpisah (dengan Israel) dalam situasi gencatan senjata jangka panjang.

Mana detail yang paling penting?

Ada keinginan warga Gaza untuk memperpanjang gencatan senjata dan kesediaan Hamas menerima opsi dua negara. Ini titik terang luar biasa yang bisa mengarah pada perdamaian.

Gencatan akan membiasakan orang-orang dalam situasi damai. Ekonomi akan berkembang, dua negara (Palestina dan Israel) tidak ada apa-apa. Kalau keadaan bagus, kekerasan pandangan akan melunak. Saat seperti itu, negosiator perdamaian bisa mulai bekerja. Namun, setelah serangan Israel ke Gaza sekarang, semuanya berantakan.

Tapi rakyat Israel justru mendukung perang kali ini?

Mereka khawatir dengan kebijakan AS di Timur Tengah di bawah Presiden Barack Obama yang belum pasti.

Sejauh mana perubahan kebijakan AS itu?

Perubahan di AS itu tidak mungkin dramatis. Suatu organisasi yang kompleks dan besar (seperti AS) tidak akan mampu bergerak secara radikal. Namun, ini tetap jadi pertanyaan buat rakyat Israel.

Perang agama

Di Indonesia, sebagian orang menganggap perang Israel-Palestina sebagai perang agama. Nono sendiri berpandangan, ini bukan perang agama, tetapi perang politik berlatar etnis dengan sejarah panjang. ”Namun, kedua pihak mengesankan, ini perang agama,” katanya.

Israel ingin menunjukkan, orang Islam sulit diajak ngomong. Bagi orang Palestina, jika perang ini dianggap perang agama, lebih mudah memobilisasi dukungan dari negara mayoritas Muslim.

Menurut Nono, setidaknya ada beberapa isu mendorong perang Palestina-Israel kali ini: persaingan politik di antara elite politik Israel, persaingan Hamas-Fatah di Palestina, dan kemungkinan pergeseran kebijakan politik luar negeri AS.

Sejauh mana politik dalam negeri Israel memicu perang kali ini?

Sebentar lagi ada pemilu di Israel. Ada tiga kekuatan yang berebut kekuasaan, yakni koalisi Kadima, Partai Likud, dan Partai Buruh. Kadima menggunakan isu Palestina untuk mendongkrak popularitasnya yang sedang turun.

(Rakyat Israel) yang mendukung perang kali ini luar biasa, hampir 100 persen, tak pandang konservatif atau moderat. Bahkan, suara-suara yang biasanya antiperang, sekarang condong ke perang.

Mengapa bisa begitu?

Ya, (rakyat Israel) seperti orang yang jengkel diganggu terus (roket Hamas), lalu nimpuk. Perang sekarang begitu keras, tanpa perikemanusiaan, karena popularitas Israel melorot ketika berperang dengan Hezbollah Lebanon tahun 2007.

Mengapa dunia diam saja?

Alasannya apa untuk intervensi? Perang mahal. Seluruh negara punya problem sendiri yang harus diurus. Siapa peduli dengan Palestina? Sementara itu, Eropa merasa punya salah kepada orang Yahudi karena kasus holocaust (peristiwa pembantaian sekitar enam juta orang Yahudi oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II).

Perdamaian

Seberapa pun ruwetnya konflik Palestina-Israel, Nono yakin konflik itu bisa diselesaikan. ”Di dunia ini banyak ahli hukum ulung dan punya pengalaman dalam proses perdamaian. Namun, mereka tetap butuh situasi yang kondusif untuk memulai negosiasi dan dukungan Barat.”

Menurut dia, ada tiga langkah yang perlu diambil untuk memulai proses perdamaian Palestina-Israel. Pertama, harus ada pasukan internasional yang mengawasi jalannya gencatan senjata dan diberi otoritas untuk mengadili pelanggaran.

Kedua, tanah-tanah yang diambil Israel dari Palestina harus dikembalikan. Ketiga, dunia internasional perlu memberi bantuan pendidikan dan kesehatan.

Siapa yang ambil peran penting dalam proses perdamaian?

AS dan Eropa. Mereka negara kaya, punya pengalaman perang dan mengawal proses perundingan. Jika mereka tidak serius mendorong penyelesaian damai, maka konflik jalan terus dan selamanya yang kuat (Israel) akan menindas yang lemah.

Mungkinkah AS memikirkan tiga langkah itu?

Saya tidak berani meramal AS. Kalau Obama memang jujur, seharusnya dia melakukan ini. Suara yang muncul sekarang menafikan korban yang besar di Palestina.

Cukupkah kebijakan luar negeri Indonesia di Timur Tengah sekarang?

Saya puas dengan kebijakan pemerintah sekarang. Menyatakan keprihatinan dan mengutuk karena Israel tak patuhi resolusi. Itu sudah baik. Keadaan kita ini payah… ya ampun! Kita tak kuat. Kita terlalu banyak problem dalam negeri. Paling dekat, Pemilu 2009.

Hikmah apa yang bisa dipetik dari konflik Palestina-Israel?

Sukses yang bisa dicapai ekstremitas itu terbatas. Suatu ketika, setelah saudara kita, ipar kita, kakak, adik tewas dalam peperangan, kita harus berpikir tentang kehidupan anak, cucu kita. Pikiran-pikiran itu akan membawa kita pada sikap yang lebih masuk akal dalam mengajukan tuntutan. Rahasia dari semua kehidupan adalah kompromi. Kita juga harus percaya pada proses, tidak semuanya sekaligus.

Tulisan  ini tidak bermaksud meniadakan penderitaan yang dialami penduduk sipil Gaza.  Bagaimanapun tewasnya penduduk sipil harus dihindarkan dalam perang apapun.
Saya tergerak karena membaca tulisan  Hamid Awaluddin  (sekarang Dubes di Rusia/mantan Menhukham) diharian Kompas (6/1) yang mengecam Israel biadab. Hamid  menyalahkannya karena tidak melancarkan perang yang adil (jus ad bellum=alasan berperang & jus in bello (cara berperang) dan juga melanggar prinsip proporsionalitas berdasarkan hukum Internasional. Tetapi diatas segalanya, dan paling penting, ialah janganlahmemandang masalah Palestina dari segi sentimen keagamaan karena tidak akan pernah menyelesaikan masalah.  Saya menulis hanya dari aspek hukum internasional.

Serangan Israel ke Gaza dapat dibenarkan berdasarkan hukum internasional berdasarkan pembelaan diri melawan terorisme internasional.  Pasal 51 UN Charter, setiap negara berhak untuk melakukan bela diri melawan setiap serangan bersenjata. Pembatasan hanya prinsip proporsionalitas. Israel memenuhinya. Kenapa ?

Prof.Alan Dershowitz (Harvard) menjelaskan, selama 4 tahun Hamas telah menembakkan 2000 roket Qasam ke daerah penduduk sipil Israel di wilayah Israel. Beberapa diantaranya bahkan mendarat di halaman sekolah, taman kanak, rumah sakit dan bus sekolah. Sejak 2001 puluhan penduduk sipil Israel tewas.  Roket Qasam memang bukan roket canggih yang tepat sasaran.  Bisa dibayangkan serangan roket-roket ini sangat menakutkan dan menimbulkan trauma bagi penduduk Israel, khususnya di Sderot yang hanya berjarak 15 detik dari lokasi peluncuran roket.  Selalu disiapkan tanda bahaya (red alert) yang akan berbunyi sewaktu-waktu, hingga kanak-kanak juga sudah terbiasa mengenalnya.  Sampai sekarang ada ratusan lubang bekas roket di Sderot.  Target Qassam memang penduduk sipil karena memang jarak tembaknya kira-kira 15 km hanya mampu jatuh di Sderot.  (Sekarang roket Hamas sudah dapat mencapai Ashkelon dan Netivot, kurang lebih 40 km.)
Serangan yang di targetkan pada penduduk sipil menurut hukum internasional adalah kejahatan perang.  Meski demikian para penembak roket Hamas cukup bangga dengan roket-roket Qasam tersebut karena mereka juga tahu bahwa dalam dunia nyata mereka tidak akan dituntut karena kejahatan perang.  Militer Israel tidak dapat berbuat banyak karena ada kebijakan ketat hanya boleh berupaya mencegah timbulnya korban sipil.

Serangan roket kepada penduduk sipil di daerah padat adalah taktik baru terorisme. Teroris sudah mempelajari bagaimana mengeksploitasi moral demokrasi melawan orang yang tidak mau membunuh penduduk sipil.  Rumah penduduk dipergunakan untuk memproduksi dan menyimpan roket.  (Hamas tidak pernah memiliki komplek lingkungan khusus militer.)  Karena disana ada roket maka menurut hukum internasional jelas menjadi target militer.  Tentara Israel akan menghubungi pemilik rumah dengan telpon untuk memberitahukan adanya target militer dan memberi waktu 30 menit sebelum diserang. Selanjutnya pemilik rumah memanggil Hamas yang kemudian segera mengirim puluhan ibu dan anak yang menangis didepan rumah.  Pola ini terjadi karena Hamas tahu persis Israel tidak akan menyerang rumah dimana ada warga sipil.   Maka Hamas memenangkan pemberitaan media dengan menunjukkan orang sipil yang tewas.  Penduduk sipil digunakan sebagai tameng pelindung target militer.  Pendeknya, ini jadi dilema yang sulit bagi Israel yang harus berhadapan dengan negara-negara demokrasi yang memelihara moralitas tinggi.

Taktik Hamas ini tak akan jalan di Chechnya.  Ketika militer Rusia menyerang maka mereka tak ragu-ragu menembak kalangan sipil. Juga tak cocok di Darfur ketika milisi janjaweed membunuh ribuan orang sipil.  Strategi itu hanya bisa berlaku melawan musuh yang mempertimbangkan moral, yang masih peduli pada jatuhnya korban sipil.

Beberapa bulan sebelum perang Gaza sekarang ini (saya tidak akan menyebutnya agresi  ataupun operasi Cast Lead),  atas usaha Mesir maka dicapai gencatan senjata. Hamas menghentikan roket-roketnya sedang Israel setuju meniadakan serangan militer melawan Hamas di jalur Gaza.  Beberapa lama sebelum pecahnya perang ini Israel menawarkan pada Hamas akan membuka pintu masuk ke Gaza untuk bantuan kemanusiaan.  Diingatkan, pintu akan ditutup begitu ada roket ditembakkan. Perdana Menteri Israel memberi peringatan akhir kalau Hamas tidak menyetop roketnya bisa dijawab dengan balasan militer skala penuh.  Apa yang terjadi ialah roket-roket masih menyerang ketika bantuan kemanusiaan bergerak.  Satu jatuh nyasar di satu rumah di Gaza menewaskan dua bersaudara penduduk Palestina berusia 5 dan 13 tahun. (Hamas melarang media meliput ”kecelakaan” ini). Dapat diduga selanjutnya Israel mempersiapkan  serangan kepada sasaran militer sebisa mungkin.

Umumnya tanggapan dunia internasional atas tindakan Israel terhadap roket Hamas,
roket Hamas yang menyerang penduduk sipil adalah benar dan serangan balik Israel adalah kejahatan perang.
Sebagian lagi, termasuk Hamid Awaluddin, mengklaim bahwa Israel telah melanggar prinsip proporsionalitas  karena membunuh begitu banyak orang dibanding jumlah orang sipil Israel yang tewas oleh roket Hamas.  Apalagi menggunakan pesawat dan persenjataan berteknologi canggih. Ini keliru karena tiga hal :
1.    Tidak ada kesejajaran hukum antara tewasnya orang sipil tak berdosa dengan pembunuhan kombatan Hamas yang bersenjata.
2.    Proporsionalitas tidaklah diukur dengan jumlah penduduk sipil yang terbunuh tetapi lebih kepada risiko terbunuhnya penduduk dan kesadaran membuat orang sipil jadi sasaran.  Secara umumnya arah roket adalah pada sekolah, rumah sakit dan taman bermain serta target sipil lainnya.
3.    Tidak ada larangan hukum Internasional yang harus mempersalahkan Israel karena unggul dalam teknologi militer dan persenjataan . (A.S tidak dapat disalahkan menurut hukum Internasional karena menggunakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki)

Berbeda dengan Israel yang segera membangun tempat-tempat perlindungan atas serangan roket maka sebaliknya Hamas tidak membangunnya karena memang ia berniat memperbesar jatuhnya korban sipil yang merupakan advertensi, senjata ampuh dalam perang media massa.  Dengan jatuhnya korban sipil maka banyak  komunitas internasional akan mengutuk Israel.  Israel sadar betul masalah ini karenanya berusaha memperkecil resiko, juga ketika target militer sangat dekat dengan sipil.  Demikian Israel sudah memenuhi prinsip proporsionalitas dan prinsip pembelaan diri atas serangan.

Pembelaan Diri

Ketika roket Jerman ditembakkan ke kota-kota di Inggris dalam Perang Dunia II maka Inggris membalas dengan mengebom kota-kota Jerman dan menewaskan ribuan penduduk sipil dan akan meneruskan sampai Jerman menyerah tanpa syarat. Amerika Serikat melakukan hal yang sama setelah Jepang menyerang Pearl Harbour. Lebih buruk lagi yang dilakukan Prancis di Aljazair, sedang Russia sama sekali tidak mempertimbangkan masyarakat sipil Chechnya atau Georgia.

Menurut hukum Internasional, Israel berhak melakukan tindakan militer guna menghentikan roket-roket yang menyerang warga sipil.  Ini merupakan pembelaan diri (self-defense).  Juga Israel berdasarkan hukum Internasional berhak menyatakan perang penuh (all-out war) melawan Hamas yang menguasai Gaza.  Dalam kondisi perang penuh tidak ada kewajiban menyediakan bantuan kemanusiaan, listrik,  kepada musuhnya yang telah memulai perang dengan serangan bersenjata.
Tidak ada yang mengutuk Inggris dan A.S atas kerusakan yang ditimbulkannya dalam usahanya menaklukkan  musuh dalam PD II.  Lebih jauh lagi, Jerman tidak menyangkal hak Inggris dan A.S untuk hadir disana.  Sebaliknya, Piagam Hamas bukan hanya menolak kehadiran Israel bahkan menyerukan pemusnahan negara Yahudi. Israel berhak melindungi warganya sebagaimana dilakukan Inggris dan A.S.

Lalu mengapa Israel menuai badai kritik yang sangat keras. ? Itu terjadi karena taktik pemanfaatan media.

Media masa menyediakan tempat yang nyaman untuk taktik Hamas yang selalu menikmati ”win-win” .  Ketika Hamas menewaskan warga sipil Israel, dia menang; dan setiap kali Israel membunuh warga sipil Palestina, Hamas juga menang.  Ini yang membuat Israel frustrasi.  Perang ini menjadi taruhan besar bagi Israel yang telah menelan pil pahit di Libanon selatan.  Oleh karena itu hampir dapat dipastikan Israel akan meneruskan perang ini untuk menghentikan kekuasaan  Hamas di Gaza atau setidaknya menghentikan roket-roketnya meluncur dari sana.